A Farmer's Hope
Essay
02 Oct 2021

Markisa: Mari Kita Bersatu! Mari Kita Bersama! Mari Kita Bisa!

Ditulis oleh Panen Apa Hari Ini dan Anang Saptoto, mereka membahas tentang Kelompok Tani Kota Markisa dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Text
Panen apa hari ini/Anang Saptoto
Photo
Anang Saptoto
Topics
A Farmer's Hope
Anang Saptoto
Panen Apa Hari Ini
Poktan Markisa
Share Article

Sebelum saya mengawali catatan ini, ada baiknya saya menceritakan terlebih dahulu awal terbentuknya Kelompok Tani Kota (Poktan) Kampung Markisa. Saya juga akan mengilustrasikan kondisi lahan pertanian yang mereka garap selama kurang lebih 2 tahun ini.

Semua ini berangkat dari kegelisahan warga, terhadap area pekarangan yang mangkrak di tepi Sungai Buntung, di area kampung mereka. Lahan tersebut penuh dengan sampah, tumbuhan liar, dan bongkahan batu sisa pembangunan rumah-rumah penduduk sekitar.

Di sana juga terdapat situs peninggalan di jaman Belanda (1897), berupa bunker yang cukup besar. Situs tersebut tidak terawat. Hal ini semakin membuat kesan area tersebut menjadi kotor dan angker.

Lahan tidur tersebut persis di sisi timur Sungai Buntung, kampung Blunyah Rejo, Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Sungai kecil ini diapit 2 sungai besar, yaitu Sungai Winongo di sisi barat dan Sungai Code di sisi timur. Di musim kemarau, tidak air yang mengalir di Sungai Buntung. Air hanya mengalir di musim hujan. 

Di awal 2020, warga mulai bergotong-royong membersihkan area tersebut. Mereka membutuhkan berhari-hari untuk meratakan dengan gotong royong dan dibantu dengan alat berat. Area berukuran 4.375m2. Inisiatif warga tersebut seiring dengan masuknya Program Pemerintah Kota bernama Karangwaru Riversite. Program ini berhasil mendorong warga untuk mengolah dan mengelola area tepi sungai menjadi bersih, tertata, dan dapat dimanfaatkan untuk aktivitas warga dan UMKM.

Arah program Riversite ini memang menyasar pada ekonomi warga dan wisata kampung. Pokok pembangunannya adalah membangun talut dan menata area sekitar sungai. Melalui program inilah, talut dan trotoar di tepi sungai berhasil dibangun. Selain itu jembatan kecil, mushola, gubuk-gubuk warung, serta toilet juga berhasil dibangun. 

Gayung bersambut, tidak lama setelah program Riversite terealisasi, Pemerintah Kota Yogyakarta masuk kembali dengan program Lumbung Mataram. Melalui Dinas Pertanian Kota Yogyakarta, Sub Bidang Ketahanan Pangan, Pemerintah ingin mendorong warga untuk kembali mengolah lahan dengan fokus pertanian.

Momen inilah yang kemudian melahirkan Kelompok Tani Kota Lumbung Mataram, Kampung Markisa, Blunyah Rejo. Warga berserikat dan bersepakat untuk mengembangkan pertanian di pinggiran kampung padat. Di tengah hingar bingar Kota Yogyakarta yang mulai sesak dan angka kemiskinan yang menghantui. Program ini berhasil membangunkan lahan tidur menjadi pusat aktivitas pertanian dan UMKM warga Blunyah Rejo. Jika kalian ke sana, kalian akan merasa seperti datang di sebuah wahana wisata yang asri dan penuh daya semangat.

Markisa, Mari Kita Bisa

Nama Kampung Markisa dipilih untuk menunjukan pilihan fokus pengembangan budidaya pertaniannya. Warga merasa keunikan itu penting. Mereka merasa buah Markisa masih jarang dikonsumsi masyarakat. Selain itu warga juga merasa belum ada Poktan yang memiliki fokus budidaya Markisa. Peluang tersebut mulai dijajaki dengan dipelajari oleh kelompok ini. Mulai dari sistem budidayanya dan olahan produk dari buah Markisa, seperti sirup, sele, dan lain-lain.

Menurut penuturan Bu Yayuk (57) dan Bu Nining (46) anggota Poktan Kampung Markisa. Filosofi nama Markisa bisa diartikan menjadi “Mari Kita Bersatu, Mari Kita Bersama, dan Mari Kita Bisa”. Semboyan tersebut seperti sebuah mantra untuk memperkuat semangat, gotong-royong, dan optimisme untuk maju bersama.

Markisa yang dibudidaya di sini adalah jenis markisa yang berwarna kuning, merah, dan ungu. Hasil buahnya berukuran sebesar bola tenis. Selain menanam, mereka juga melakukan pembibitan secara mandiri. Sistem pembibitannya menggunakan polybag, lalu setelah 2 bulan atau sudah cukup besar dipindah ke tanah dan dicampur media tanam serta pupuk. Sebagian pupuk awalnya diperoleh dari bantuan Dinas Pertanian Kota Yogyakarta.

Mereka juga membuat sendiri anjang-anjang dengan memanfaatkan bambu. Anjang-ajang ini penting untuk budidaya pohon-pohon yang merambat. Untuk memudahkan pengontrolan pohonnya dan tata letak lahannya. Di bawah anjang-anjang setiap 2 meter ditanam buah markisa. Total keseluruhan di lahan ini kurang lebih menanam 60-80 bibit. Sisa lahannya dimanfaatkan untuk menanam sayuran dan budidaya lele.

Setiap hari masing-masing anggota kelompok mendapatkan jatah piket dari jadwal yang mereka sepakati bersama. Menyiram, membersihkan lahan, dan mengontrol tanaman adalah aktivitas rutin yang mereka lakukan setiap hari.

Lama masa tanamnya antara 5 hingga 7 bulan, buah markisa siap untuk dipanen. Setelah panen pertama, maka berturut-turut markisa dapat dipanen kembali setiap 2-3 minggu. Setiap panen bisa 10-20 kg yang didapat. Dari hasil tersebut sebagian dijual buahnya, sebagian yang lain diolah menjadi minuman dan sirup markisa. Olahan tersebut dijual di kios dan warung makan UMKM warga di depan lahan pertanian mereka.

Setiap pengunjung yang datang dapat langsung membeli dengan memetik buahnya langsung dari pohon, sembari menikmati minuman markisa di warung UMKM, dan sekaligus membeli sirup markisa untuk dibawa pulang.

Tantangan dan kendala budidaya Markisa selama masa PPKM

Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ini berimbas dalam kegiatan pertanian Poktan. Selain himbauan meniadakan kegiatan-kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan, masyarakat juga menjadi waspada dan takut untuk bertemu satu sama lain. Hanya beberapa orang yang masih berani untuk melakukan kegiatan pertanian.

Secara umur, satu pohon Markisa kurang lebih hanya satu tahun, dengan jangka panen setelah pohon berusia 6 bulan, maka per 2-3 minggu dapat menghasilkan panen. Semakin berumur pohonnya, maka jumlah dan kualitas buah dalam setiap panen akan mengalami penurunan. Maka diperlukan pembaharuan, dengan cara pembersihan pohon lama diganti dengan bibit baru.

Tak hanya dalam sektor budidayanya, secara penjualan juga mengalami penurunan pembeli. Merosotnya perekonomian warga membuat daya beli menurun. Kios dan warung UMKM mengalami sepi pengunjung. Pertanian kota menjadi layu dan kering, seiring dengan pembatasan dan minimnya bantuan. Namun semangat Poktan Kampung Markisa tidak pernah surut, mereka telah merencanakan berbagai perubahan dan pembaharuan terhadap tata kawasan dan tata pertaniannya.

Bagaimana dengan budidaya lele?

Artikel ini adalah bagian pertama dari serial yang membahas tentang Kelompok Tani Kota (Poktan) Kampung Markisa, Karangwaru, Tegalrejo, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *