A Farmer's Hope
Essay
13 Oct 2021

Pasang Surut dan Kilauan Budidaya Lele Mutiara

Pernahkan kita membayangkan dari mana sumber-sumber lele yang dimasak?

Text
Panen Apa Hari Ini/Anang Saptoto
Photo
Anang Saptoto
Topics
A Farmer's Hope
Anang Saptoto
Kelompok Minorejo
Lele Mutiara
Panen Apa Hari Ini
Poktan Markisa
Yogyakarta
Share Article

Budidaya ikan memang selalu berdampingan dengan pertanian, seperti halnya yang terjadi di Kelompok Tani Kota (Poktan) Kampung Markisa, Blunyah Rejo, Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Selain melakukan budidaya Markisa, mereka juga melakukan budidaya lele mutiara. Hal ini selaras dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan sumber makanan, yaitu sayur, buah, dan ikan, agar bisa dinikmati dan mencukupi gizi masyarakat.

Saya sempat menemui salah satu pembina budidaya lele di Kota Yogyakarta. Namanya Purwanto (42) atau biasa disapa Mas Pur. Ia juga salah satu anggota Poktan Kampung Markisa. Awalnya di kelompok ini, pertanian dan perikanan menjadi satu. Namun dalam prosesnya, budidaya lele menjadi sub kelompok bernama Kelompok Budidaya Lele Minorejo.

Lele mutiara memiliki ciri-ciri berbadan panjang dan berbintik. Lele ini salah satu yang memiliki daya tahan tubuh yang kuat, ia mampu beradaptasi di berbagai macam suhu dan cuaca. Menurut Mas Pur, budidaya lele terbanyak di Yogyakarta adalah lele mutiara. 

Awalnya bibit-bibit yang dipakai mereka beli dari peternak lele di daerah Cangkringan. Namun sudah 6 bulan ini Kelompok Minorejo memijahkan benih lele sendiri. Mereka berhasil membudidayakan sendiri mulai dari benih hingga panen. Dengan durasi pasca pemijahan usia 1 bulan, lalu dipindah di bioflok atau kolam-kolam berukuran besar untuk pembesaran.

Budidaya lele mutiara

Bibit lele pertama kali dipijahkan rata-rata berukuran 5-7 cm, atau biasa dikenal dengan istilah 57. Menurut Mas Pur, istilah 57 yang dikenal masyarakat itu sebenarnya 5 cm hingga 7 cm, bukan 57 terangnya sambal tertawa. Jumlah pemijahannya sekitar 40.000 benih per kolam, kegagalan pemijahan sekitar 25%. Sehingga besar kemungkinan hanya 30.000 ekor yang selamat. Resiko kematian benih itu terjadi akibat sirkulasi air, cuaca, dan kanibalisme.

Durasi budidaya dari waktu pemindahan ke kolam besar hingga panen membutuhkan waktu 3 bulan. Kelompok Minorejo memiliki 3 macam bioflok, yaitu bioflok berjenis tong biru. Masing-masing tong cukup untuk 200 ekor lele. Lalu jenis bioflok kotak ukuran 2 m dengan tinggi 1 m. Masing-masing bioflok kotak cukup untuk 500-800 ekor lele. Lalu untuk jenis bioflok bulat berdiameter 3 m, cukup untuk 4.000 ekor lele. Bahan yang digunakan untuk pembuatan bioflok juga ada 2 macam, ada yang plastik terpal dan ada yang semi karet. Bahan yang semi karet ini secara suhu lebih baik untuk lele, karena tidak terlalu panas, sehingga resiko kematian lebih kecil.

Simulasinya seperti ini, 1 bioflok tong 200 ekor lele x 30 tong bioflok artinya jumlah yang akan dipanen adalah 6.000 lele. 1 bioflok kotak 800 ekor lele x 10 bioflok kotak artinya jumlah yang akan dipanen adalah 8.000 ekor lele. Lalu yang bioflok yang bulat berukuran 3 meter, 1 bioflok bulat 4.000 ekor lele x 5 bioflok bulat artinya jumlah yang akan dipanen adalah 20.000 ekor lele. Dengan masa budidayanya setiap 3 bulan sekali Kelompok Minorejo berhasil menghasilkan panen 34.000 ekor lele.

Ini bukan jumlah yang sedikit, dan ini baru dari satu kelompok tani. Bisa dibayangkan jika rata-rata di Kota Yogyakarta melakukan budidaya lele. Berapa banyak lele yang beredar di tiap-tiap wilayah kampung di Kota Yogyakarta.

Sampai saat ini makanan lele yang paling efektif masih pelet. Menurut penuturan Mas Pur, lele yang masih kecil hingga lele yang besar ukuran peletnya berbeda. Besar kecilnya menyesuaikan usia lelenya.

Durasi penggantian air kolam juga menyesuaikan besar kecilnya kolam. Sebagai contoh kolam tong biru, pergantian airnya bisa 1 minggu sekali. Lain halnya dengan kolam-kolam yang lebih besar, pergantian airnya bisa 1 bulan sekali. Air yang dipakai diambil dari sumur. Sebenarnya bisa memanfaatkan air sungai, namun kualitas airnya harus diuji di lab dan konsistensi air di Sungai Buntung tidak selalu ada airnya.

Limbah air dari kolam yang sudah dibersihkan dapat dipakai untuk menyiram tanaman di lahan pertanian. Namun di Poktan Kampung Markisa masih belum sepenuhnya memanfaatkan air bekas kolam lele. Menurut Mas Pur, air bersih dari sumur malah gak ada nutrisinya. Justru air bekas kolam lele itu kaya nutrisi dan baik untuk tanaman.

Untuk menghilangkan bau atau meminimalisir bau air kolam lele, Kelompok Minorejo biasa menggunakan enzim. Awalnya kelompok ini menggunakan produk enzim yang sudah jadi, namun sekarang Kelompok Minorejo memproduksi enzim sendiri dengan sari buah-buahan. Caranya adalah buah-buah dihaluskan atau di-blender, lalu difermentasi beberapa hari. Barulah enzim ini siap dimasukan ke dalam kolam.

Pecel lele, e-waroeng, dan upaya untuk distribusi saat panen lele

Jika kita jalan-jalan di Yogyakarta, kita akan dengan mudah menemukan warung tenda pecel lele di pinggir jalan. Pernahkan kita membayangkan dari mana sumber-sumber lele yang dimasak?

Jika kita menggunakan simulasi kalkulasi panen Kelompok Minorejo dalam 3 bulan memiliki 34.000 panen lele. Dimana distribusi lele sebanyak ini? Saya coba bertanya pada Mas Pur, mengenai cara Kelompok Minorejo menjual hasil dari budidaya lele mutiara.

Menurut penuturan Mas Pur, Kelompok Minorejo juga menjual benih lele yang mereka budidaya sendiri. Selain itu, kelompok ini juga sering terlibat dalam pelatihan-pelatihan budidaya lele sebagai fasilitator. Lain halnya dengan hasil yang berhasil dipanen, Mas Pur dan teman-teman mendistribusikan lele-lele yang siap konsumsi ini ke warga kampung sendiri dan kelompok lain di satu wilayah.

Baru akhir-akhir ini, mereka mencoba bekerjasama dengan e-waroeng. Ada dua hal yang membuat Poktan pembudidaya lele sulit untuk mendistribusikan hasil panennya ke warung-warung pecel lele. Pertama, konsistensi jumlah panennya. Kedua adalah monopoli bisnis penyetok lele di warung-warung pecel lele. Kadang yang membuat pemilik warung pecel lele tidak berani beli di tempat lain adalah penghentian suplai lele jika ketahuan membeli lele dari sumber yang lain. Ke depannya, dengan sosialisasi yang baik, serta dibantu pihak Kelurahan dan Kecamatan, Kelompok Minorejo juga akan menggandeng warung-warung pecel lele yang satu kampung dengan mereka.

Sesuai dengan konsep ketahanan pangan. Akses untuk kebutuhan sumber pangan dan distribusi yang baik dari kelompok-kelompok di satu wilayah harus lebih dioptimalkan. Pertanian tidak sekedar dijadikan agenda program atau kegiatan semata. 

“Pertanian di Kota Yogyakarta akan lebih bermanfaat dan nyata jika budidaya dan pemasaran terus dikembangkan.”

Artikel ini adalah bagian kedua dari serial yang membahas tentang Kelompok Tani Kota (Poktan) Kampung Markisa, Karangwaru, Tegalrejo, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *