A Farmer's Hope
Interview
27 Oct 2021

Taman Kelecung (Hydroponics Farm and Training Center)

Seputar kebun hydroponic di Eco Village Kelecung.

Text
Aniek Puspawardani
Photo
Aniek Puspawardani
Topics
A Farmer's Hope
Aniek Puspawardani
Desa Kelecung
Eco Village Kelecung
Farmers
Hydroponic
Taman Kelecung
Training Center
Share Article

Semua petani pastinya mempunyai masalah masing-masing. Apakah masalah terbesar yang Kak Aniek alami dalam bertani?

Masalah yang terbesar yang kami hadapi dalam bertani adalah ketidakpastian musim. Sekitar 3 tahun terakhir musim hujan dan musim kemarau tidak dapat terprediksi sehingga sulit bagi kami untuk menentukan jenis tanaman yang akan ditanam.Ketidaktentuan musim ini juga mengakibatkan hama penyakit tanaman banyak bermunculan yang sangat mengganggu hasil panen.

Adakah solusi yang layak untuk masalah tersebut?

Kami meyakini bahwa ketidakpastian musim ini disebabkan oleh pemanasan global yang terjadi. Kami para petani sangat berharap semua orang menyadari masalah ini dan mulai merubah pola kehidupan kita menjadi pola kehidupan yang ramah lingkungan. 

“Mulailah dari hal-hal kecil dalam kehidupan kita sehari-hari seperti mulai mengkonsumsi makanan lokal agar dapat mengurangi emisi gas CO2, melakukan management sampah dengan benar dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan hal-hal yang lainnya.”

Dalam hal bertani, kami memulai pertanian dengan sistem hydroponic sebagai salah satu solusi. Mengapa hydroponic? Karena dengan bertani menggunakan sistem ini memungkinkan kita untuk mengurangi dampak dari perubahan musim tersebut. Bertani di bawah greenhouse memungkinkan kita mengontrol jumlah air dan juga menekan hama yang masuk sehingga kita juga dapat menekan penggunaan pestisida kimia pada tanaman. Selain itu system hydroponic ini memungkinkan kita untuk berkebun dengan efektif. Kita tidak membutuhkan lahan yang luas agar dapat berkebun dengan hasil yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pertanian konvensional.

Apa harapan Kak Aniek untuk masa depan industri pertanian?

Harapan terbesar adalah bagaimana semua industri berkiblat pada pelestarian alam. Kehidupan manusia tidak dalam dipisahkan dari alam ini sendiri karena kita adalah bagian dari alam. Menyakiti alam berarti menyakiti diri sendiri, orang lain dan semua makhluk yang ada di dalamnya padahal keseluruhan ekosistem ini mempunyai mata rantai yang saling terkait. Jika salah satu mata rantai terputus maka mengakibatkan gangguan pada keseluruhan kehidupan yang terjadi. 

Tanda disadari jika kita tidak memperhatikan bagaimana industry dikembangkan kedepannya maka dampak langsung yang akan dirasakan adalah buruknya kualitas makanan yang kita konsumsi. Hal ini yang akan mempengaruhi kualitas kehidupan kita karena buruknya pola makan akan mengakibatkan banyak penyakit yang akan menurunkan produktivitas kita.

“Menyakiti alam berarti menyakiti diri sendiri, orang lain dan semua makhluk yang ada di dalamnya padahal keseluruhan ekosistem ini mempunyai mata rantai yang saling terkait.”

Bagi generasi muda yang ingin mulai bertani, apakah harapan Kak Aniek untuk mereka?

Harapan untuk generasi muda, mari kita mulai bertani dan menghasilkan makanan kita sendiri. Manusia yang mandiri adalah manusia yang mampu menghasilkan makanannya sendiri karena makanan adalah kebutuhan paling pokok dari setiap manusia. Dengan makanan manusia dapat bertahan hidup dan jika makananya diproduksi sendiri dengan memperhatikan kualitas yang baik maka baik pula makanan kita maka baik pula kualitas kehidupan kita.

Pandemi ini mengajarkan pentingnya kesehatan bagi kehidupan kita. Sudah saatnya generasi muda terlibat langsung dalam pertanian. Inovasi dan kreatifitas dalam bertani merupakan kebutuhan yang mendesak terutama di Indonesia. Banyak sisi dari pertanian yang harus dipikirkan untuk dikembangkan sesuai dengan keadaan zaman dan kebutuhan masa kini.

Menurut Kak Aniek apa yang seru dari bertani? Adakah cerita-cerita seru selama pengalaman bertani?

Bertani itu seru banget! Dengan bertani kita bisa melihat bagaimana keajaiban tanaman mulai dari benih sampai tumbuh remaja sampai dewasa yang siap kita panen dan konsumsi. Ada rasa puas dan bersyukur ketika kita menikmati hasil tanaman kita sendiri. Dengan pengalaman itu kita tidak akan berpikir untuk membuang-buang makanan karena mengerti bagaimana pengorbanan dan usaha yang kita berikan agar tanaman tersebut sehat dan dapat dipanen dalam kondisi yang terbaik.

Sedikit berbagi cerita pengalaman; melihat situasi yang sulit dari para petani di Kelecung, desa saya membuat saya berpikir adakah cara bertani yang lebih mempunyai resistensi terhadap musim, yang tidak memerlukan lahan yang luas (karena saya sendiri tidak punya lahan luas) dan juga “less effort” karena saya bukan dari background pertanian dan merasa tidak mampu jika harus bertani secara tradisional. Dan adik saya, yang juga bukan petani memberi ide bertani dengan menggunakan system hydroponics. Akhirnya bersama beberapa teman-teman pemuda/i kami belajar dari berbagai sumber bagaimana cara bertani dengan sistem ini.

Singkat cerita akhirnya berdirilah Taman Hydroponics di desa Kelecung yang terletak tepat di pesisir pantai. Banyak masyarakat sekitar kami yang mempertanyakan tentang farm ini dan meragukan apa yang kami kerjakan. Tapi kami tetap mulai menanam dan kami memilih untuk menanam sayuran yang yang tidak pernah ditanam di desa kami seperti Bayam Merah, Pokcoy, Kale, Pagoda Kale, berbagai jenis selada, dan lain sebagainya. Dan ternyata hasilnya cukup menggembirakan, selain kami konsumsi sendiri, kami bisa berbagi dengan banyak warga di sekitar, dan juga kami jual ke beberapa restaurant dan teman-teman expat yang tinggal di Bali. Meskipun banyak yang pesimis di awal dengan mengatakan semisal “untuk apa menanam kangkung di pipa dengan investasi yang besar?” atau “untuk apa menanam sayur yang aneh-aneh tapi tidak bisa makannya?” tidak menyurutkan niat kami untuk maju. Dan terbukti bahwa hampir setiap orang yang menikmati hasil kebun kami merasa puas dan ingin belajar sistem pertanian ini.

Saya pribadi dan tim juga merasa senang karena dapat menikmati sayuran sehat tanpa pestisida dengan rasa yang nikmat. Sangat berharap semakin banyak orang di desa kami mengikuti apa yang kami lakukan sehingga kita semua dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia dalam pertanian yang berdampak buruk tidak hanya pada diri kita sendiri tapi juga kepada lingkungan secara keseluruhan.

 

One thought on “Taman Kelecung (Hydroponics Farm and Training Center)

Leave a Reply

Your email address will not be published.