Op-ed
Essay
31 Oct 2021

Nyegara Gunung (Di Antara Laut dan Gunung)

Dengan melihat lebih dekat, kita juga mengetahui lebih banyak, dengan begitu kita bisa mempertimbangkan apa yang bisa kita sumbangkan.

Text
Lisa Sibagariang
Illustration
Cyntia Agata
Topics
Bali
Bali Barat
Cyntia Agata
Farming
Hydroponic
Lisa Sibagariang
Op-Ed
Petani
Putu Ayu Aniek
Tegalmengkeb
Share Article

Bali sangat dikenal dengan keindahan alamnya, perpaduan budaya dan agama yang sangat unik membuat Bali berbeda dengan pulau lainnya di Indonesia. Barisan gunung dan bukit menyuguhkan sejuknya Kintamani, pantaran teras sawah yang rapih membuat Tegallalang begitu ikonik, luasnya lautan yang membentang dari sudut pulau, memberikan pantai-pantai berpasir halus, hitam ataupun putih. Deretan pura indah dengan ukiran dan simbol yang sangat sakral, menjadi bangunan yang menjulang tertinggi di pulau ini, simbol betapa Bali dipersembahkan untuk Maha Pencipta. 

Bali bagaikan lautan dan pegunungan indah yang keagungannya terlihat damai dan menyejukkan dari kejauhan, tetapi kalau kita lihat lebih dekat, ada batu-batu terjal yang membangun sebuah gunung, karang-karang tajam yang mengisi lautan. Seperti indahnya alam yang juga dibangun dengan kerasnya bebatuan, Bali juga memiliki kerikil-kerikil kecil yang perlu kita sortir apabila kita ingin terus menikmati keunikannya. 

Di barat Bali, di sebuah desa bernama Tegalmengkeb, seorang perempuan bernama Ani memutuskan untuk kembali menetap di desa tempat ia lahir dan dibesarkan setelah beberapa tahun tinggal di kota Surabaya. 

Alasan Ani untuk pulang ke desanya bisa dikatakan sebagai panggilan jiwa, yakni untuk membangun dan memajukan desanya sendiri. Niat ini berkembang menjadi gagasan, lalu rencana dan sampai akhirnya menjadi program yang sekarang ia jalankan. Salah satu program Ani adalah mengenalkan hidroponik kepada orang-orang di desanya, terutama anak-anak muda yang sudah tidak lagi tertarik dengan pertanian. Misi Ani ini tidaklah semudah yang kita bayangkan, mengingat bertani tidak akan pernah semenarik menjadi YouTuber atau TikToker di zaman sekarang. Bukan penyintas globalisasi namanya apabila mimpi beliau berhenti sampai disitu saja. Saat ini, Ani sudah membangun rumah hijau pertamanya, dan sudah menikmati hasil panen hidroponiknya. Mimpi Ani selanjutnya adalah menggunakan teknologi untuk membantu mempermudah pekerjaan bertani serta menarik minat anak-anak di desanya untuk kembali bertani. 

Yang Ani tawarkan bukan hanya solusi di masa pandemi, bukan juga semata untuk meningkatkan mutu ekonomi.

Ani percaya jika seseorang bisa hidup dari lahannya sendiri, maka seseorang tersebut sudah mandiri.

Mandiri berarti bebas dari ketergantungan akan keputusan dari orang lain. Bukankah memiliki kebebasan untuk memutuskan sesuatu jauh lebih baik dibandingkan harus mematuhi keputusan yang hanya dinikmati segelintir orang? Contohnya dengan apa yang terjadi sekarang ini.

Bertani sebagai bagian dari budaya 

Sebagai negara agraris, bertani adalah sumber utama mata pencaharian sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk di Bali.

Keseriusan orang Bali dengan kepengurusan dan pelestarian subak memperjelas betapa pertanian bukan hanya sebagai sumber mata pencaharian tetapi juga budaya yang sudah dijalankan secara turun-temurun.

Sayangnya sudah bukan rahasia lagi bahwa sebagian lahan di Bali tak akan bisa ditanami padi kembali. Sawah berubah menjadi barisan villa-villa mewah, tanjung-tanjung disulap menjadi beach club, pantai-pantai dicemari musik dan cahaya sehingga pantai tidak lagi dikunjungi oleh penyu-penyu yang tadinya memperkaya alam di Bali. 

Apa yang terjadi jika lahan milik leluhur sudah tidak lagi bisa ditanami? Akankah Bali kehilangan keunikannya sendiri?

Bagaimana kita bisa melestarikan budaya?

Cerita Ani adalah kerikil tadi, sangat kecil tetapi berarti.

Alam di Bali mungkin bisa abadi, tetapi tanpa keunikan budaya tadi, apakah ia masih disebut Bali?

Sebagai pendatang yang mencintai Bali seperti ibu pertiwi, aku juga ingin berkontribusi, mungkin tidak bertani, tetapi mendukung program yang dijalankan Ani.

Dengan melihat lebih dekat, kita juga mengetahui lebih banyak, dengan begitu kita bisa mempertimbangkan apa yang bisa kita sumbangkan. Ada banyak hal yang bisa kita jadikan bahan renungan, seperti: belanja di pasar tradisional, membeli langsung produk dari petani lokal, memilih mendukung penjaja kuliner lokal daripada franchise makanan luar.

Sebagai seorang koki, aku juga memilih untuk menggunakan bahan-bahan lokal. Selain alasan diatas tadi, koki dan petani memang seharusnya memiliki relasi yang harus mumpuni, yakni menyediakan (bahan) makanan yang terbaik bagi orang lain. Menggunakan bahan lokal memang bisa menjadi tantangan tertentu bagi seorang koki, apalagi untuk restoran-restoran yang berkonsep bintang lima. Akses untuk petani kita mengetahui pasar restoran masih jauh dari yang seharusnya, sehingga hubungan koki dan petani ini masih hubungan satu arah. Untuk itu, tidak salah jika petani lokal belum mampu menyediakan kualitas yang restoran berbintang inginkan. 

Hal inilah yang membuat saya sebagai koki ingin membangun hubungan dua arah dimana koki dan petani bergandengan untuk mendukung penggunaan bahan-bahan lokal. Petani dalam hal ini harus paham akan kebutuhan kualitas restoran sehingga mampu menyediakan bahan-bahan yang diperlukan. Begitu sebaliknya, ketidaksempurnaan dari bahan-bahan lokal mestinya menjadi tantangan untuk menguji kreativitas dan keahlian seorang koki. Mumpung di Bali, ayo meditasi, betapa setiap tindakan kecil kita akan berdampak besar bagi orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published.