Op-ed
Essay
05 Nov 2021

Rasa yang Hilang Dalam Genggaman

pengalaman multi-indera dalam kegiatan makan di luar yang pelan-pelan tergantikan.

Text
Ical
Illustration
Nova Kusuma
Topics
Eating Out
Ical
Layanan Pesan Antar
Nova Kusuma
Rumah Makan
Share Article

Sekitar bulan November tahun 2019 pukul satu lebih tujuh belas menit, saya tiba di depan sebuah rumah makan padang di Kota Denpasar sekitaran jam makan tengah hari yang terik itu, mematikan mesin dan menurunkan standar sepeda motor, membuka helm dan menaruhnya di spion lalu berjalan bergerak masuk ke dalam rumah makan yang terletak di Jl. Mahendradatta, Denpasar Barat tersebut. Saya disambut semerbak asap wangi dari proses pembakaran ikan kembung berbumbu gradasi kuning oranye khas Minang, di saat yang sama juga dipertontonkan aneka panganan nyaman atau comfort food bagi hampir semua orang dari seluruh Nusantara dari balik etalase kaca bening dengan cutting sticker bertuliskan identitas rumah makan tersebut, “RM. BALENONG” dengan huruf kapital total. Tumpukan piring yang disusun rapi berisi aneka ragam kenikmatan; dendeng, paru goreng, ikan kembung bakar dan goreng, perkedel kentang, belut lado ijo, ayam balado, dan sebagainya dan sebagainya berdiri kokoh membentuk sebuah candi samba (lauk-pauk dalam bahasa padang) – menjadi tempat orang-orang menuntaskan ibadah lapar.

Lanjut masuk ke dalam, wangi-wangian makin menghujani hidung, sepasang bola mata berkelana seolah menelanjangi candi samba itu dan seketika liur hampir lolos dari bibir. Ada 4 wajan besar berdiameter 60 centimeter di atas kompor di dalam ruang berukuran kurang dari seratus meter persegi; dua diantaranya meletup-letupkan minyak dari proses pembuatan randang/ rendang yang sedang diaduk oleh seorang tukang masak atau koki dengan kedua tangannya sekaligus. 2 lainnya berisi gulai babat dan sambal hijau yang sedang digoreng.

Saya mengalami beberapa kali stimulus indera yang membuat rasa lapar yang kalau bisa dikira-kira 60 persen saat saya masih dalam kamar kos yang berjarak 2,3 kilometer atau kurang dari 10 menit perjalanan menggunakan sepeda motor menjadi 90 persen sejak saya tiba sampai masuk ke dalam ruangan dalam waktu sesingkat kurang dari 5 menit.

Saya kemudian memesan makanan dengan berbicara kepada pekerja rumah makan itu:

“Da, makan di sini satu pakai rendang sama telur dadar, kasih sambal merah ya!”

“Kasih kuah, bang?” tanya balik si Uda.

“Kasih sedikit aja, Da”, balas saya.

Dua lauk yang saya pesan adalah makanan andalan kami di rumah nenek. Proses menunggu sajian yang penuh memori tersebut terasa singkat, sambil mengingat suasana rumah nenek dan menahan liur, seketika tersajilah piring dengan isi persis apa yang saya minta di hadapan tubuh saya, ekstra rebusan daun singkong dan potongan timun. Tangan langsung menyambar piring penuh warna; putih nasi, coklat kehitaman rendang dan coklat keemasan telur dadar, hijau daun singkong dan merah sambal, serta kuning creamy kuah gulai berbahan dasar santan. Indera penglihatan saya terstimulasi dan bunyi-bunyian hadir dari dalam perut–tanda lapar makin menggebu-gebu.

Warung, rumah makan dan restoran; ruang di mana manusia bisa mengakses makanan dan minuman di luar rumah punya sejarah panjang dan beragam; dari kota metropolitan Paris yang dikunjungi kalangan aristokrat ke oasis Kasghar yang disesaki oleh kelas pekerja yang tidak memiliki dapur di rumahnya. Selain fungsi utamanya sebagai penyedia makan dan minum, mereka punya sejarah pengalaman yang kurang lebih sama: sebagai ruang interaksi antar manusia–dari orang asing, kerabat, sampai organisasi politik, dengan pembahasan gosip receh sampai merancang revolusi.

Suasana makan siang saat itu lumayan sunyi, semua meja dipenuhi orang-orang lapar yang sedang berkonsentrasi melahap makanannya. Sambil membawa piring dengan aneka warna dan bau-bauan sedap juga memori akan rumah nenek, saya menentukan pilihan menempati kursi kosong di meja pojok rumah makan yang sedang ditempati oleh seorang bapak tua sekitar 70 tahunan yang hampir menumpaskan nasi gulai gajebo dan perkedel kentang di hadapannya. Saya mengucapkan kalimat klise yang diucapkan orang saat kehabisan kursi di rumah makan.

Pak, gabung ya..” 

Silakan, dek”. Katanya.

Klise bukan berarti nihil fungsi; kalimat yang terdiri dari dua kata itu dapat membuka pintu interaksi antar manusia yang hari-hari ini lebih sering melihat refleksi dirinya sendiri di cermin hitam dengan kemampuan “menghubungkan dunia dalam genggaman”. Setelah menumpaskan piring dalam waktu kurang dari 5 menit, saya membakar rokok dan bapak tersebut masih duduk di hadapan saya. Sebagai orang yang lebih suka sendiri mendatangi rumah makan, saya lumayan sering bertukar kalimat-kalimat dari yang mungkin sebagian besar terkesan basa-basi seperti “Orang mana? Kerja apa? Sudah berapa lama di kota ini?” sampai obrolan tentang situasi sosial politik terkini dengan orang yang berbagi meja dengan saya. Percakapan dengan orang asing selalu menyenangkan buat saya, karena hanya dengan orang asing saya bisa berkata apapun tanpa perlu peduli apa yang mereka pikirkan, pun juga sebaliknya. Sambil menghisap rokok setelah membersihkan piring dari makanan penuh rasa dan ingatan, di meja kasir terlihat beberapa orang berjaket hijau menunjukkan gawainya yang kemudian dengan sekejap ditukarkan dengan kantong kresek berisi makanan pesanan konsumen, dengan sedikit sekali–bahkan tanpa suara sedikitpun keluar dari mulut mereka.

Layanan pesan-antar makanan pihak-ketiga yang disediakan oleh perusahaan teknologi multi-nasional seperti GoJek, GrabFood, dan sebagainya hadir memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada konsumen untuk mengakses pangan tanpa perlu beranjak dari ruang privat mereka dengan beberapa kali klik dan ketik. Dalam tulisan ini saya tidak ingin menyangkal bahwa layanan yang mereka tawarkan membantu memudahkan hidup manusia-manusia lapar mengakses pangan tanpa perlu beranjak dari ruang privat dan kesibukannya. Saya juga kadang adalah seorang pemalas yang menjadi konsumen klik dan ketik dalam aplikasi di gawai yang saya miliki. Layanan itu juga memberikan lapangan kerja kepada mereka; orang-orang berjaket hijau yang menjadi driver atau mitra penjemput dan pengantar pangan ke konsumen.

Pandemi datang dan layanan pesan-antar makanan via aplikasi seketika menjadi kebutuhan esensial untuk bertahan hidup kebanyakan orang, menggeser cara manusia memperoleh kebutuhan perutnya. Kebiasaan menyantap makanan yang dimasak di luar dapur pribadi yang sebelumnya dilakoni di rumah-rumah makan berpindah ke ruang privat dengan bantuan aplikasi dan mitra pengemudinya. Dengan alasan ketakutan akan terpapar virus, saya menjadi pengguna rutin aplikasi semacam itu.

Di tengah siang penuh kekhawatiran, saya kelaparan dan ingin makan dengan sajian dari RM. Balenong, rumah makan padang andalan. Saya mengambil gawai, membuka aplikasi, mengetik nama rumah makan tersebut dan scroll-scroll layar dengan jari telunjuk di halaman aplikasi untuk mencari menu apa yang sekiranya ingin saya makan. Saya kebingungan, di dalam aplikasi cuma terlihat beberapa menu yang terbatas dibandingkan dengan apa yang saya lihat saat berkunjung langsung ke sana. Ini adalah pertama kalinya saya memesan dari tempat itu menggunakan aplikasi. Singkat cerita, pilihan jatuh kepada paket gulai tunjang dan terong goreng dengan beberapa kali klik dan scroll. Notifikasi “Yeah! You got a driver!” seketika muncul di layar gawai. Dengan fitur “quick-reply” yang berisi pilihan beberapa kalimat tinggal klik di halaman chat, sang driver mengatakan “Sesuai aplikasi ya?”, lalu saya balas–menggunakan fitur yang sama “Yes, as ordered on the app” dan “Thank you”.

Saya menaruh gawai dan melanjutkan pekerjaan dan beberapa saat kemudian dering telepon membangunkan saya dari rasa lapar yang lupa. Tanpa mengangkat telepon saya langsung keluar kamar dan sang driver sudah berdiri di depan pagar tempat kos membawakan pesanan saya dengan kantong kresek berisi bungkusan nasi dalam kertas minyak dan daun pisang plus 2 plastik bening berisi kuah gulai dan sambal hijau. Kembali duduk di kursi kerja, saya mulai membuka bungkusan nasi yang berisi tunjang dan terong, membuka plastik berisi kuah gulai dan sambal lalu menuangkannya ke atas piring lalu kemudian makan sambil menunggu renderan video yang sedang saya kerjakan.

Sebuah pengalaman baru saya rasakan saat mulai melahap makanan dengan bentuk yang berantakan (semoga kita sepakat bahwa makanan padang yang dibungkus tidak semenarik secara visual daripada yang disajikan langsung di tempatnya). Pengalaman merasakan pangan tanpa perjalanan, komunikasi verbal dengan penyedia dan pekerjanya dan orang-orang asing, tanpa wangi-wangian rempah menusuk hidung, tanpa mengamati candi samba berisi pangan berwarna-warni dan proses pengolahan makanan, juga suasana di dalam ruang rumah makan.

Kegiatan makan di luar; yang selalu menjadi sebuah pengalaman multi-indera menuju ibadah memenuhi perut kosong yang khusyuk kini diwakilkan oleh orang-orang berjaket hijau dengan gawai minim interaksi dan stimulasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *