A Farmer's Hope
Essay
10 Nov 2021

Mengubah TPA menjadi Lahan Produktif

Ketika TPA diubah menjadi lahan pertanian yang asri dan produktif.

Text
Anang Saptoto
Photo
Anang Saptoto
Topics
A Farmer's Hope
Anang Saptoto
Kelompok Tani
Poktan Ngudi Mulyo Pugeran
TPA
Share Article

“Karena dulu itu di sini [lahan] buat tempat sampah,” ucap Bu Iswati (35) di waktu itu. Saya tidak menyangka bahwa salah satu lahan yang digunakan untuk pertanian oleh Kelompok Tani Ngudi Mulyo, Pugeran, Yogyakarta, adalah bekas tempat pembungan akhir. Bu Iswati atau yang lebih akrab dipanggil Bu Is, bercerita bahwa lahan pertanian ini dulunya digunakan tempat pembuangan sampah. Bukan hanya bagi warga kampung, tapi menjadi langganan pembuangan sampah masyarakat luas. Mulai dari sampah rumahan hingga sampah restoran.

Lambat laun, pemukiman warga sekitar mulai tercemari. Udara yang bau tengik, tumpukan sampah menjadi sarang ular dan tikus. Belum lagi hilir mudik kendaraan di sekitar kampung yang mengangkut sampah.

Merespon hal tersebut, warga mencoba menghubungi dinas terkait untuk mengolah lahan menjadi kegiatan warga, maka lahirlah Kelompok Tani Ngudi Mulyo Pugeran. Sebelumnya, warga juga memang sudah mengolah lahan pertanian di sekitar lahan olahan baru ini.

Kini lahan bekas pembuangan akhir diolah kelompok tani menjadi lebih asri dan produktif. Poktan Ngudi Mulyo menanami lahan dengan berbagai macam jenis tanaman. Untuk jenis sayuran terdapat kangkung, bayam, terong, kembang turi, cabe, dan sawi. Untuk jenis tanaman karbohidratnya terdapat singkong dan tales. Lalu untuk jenis buah ada pisang sama pepaya.

Bu Is menjelaskan bahwa di lahan baru ini, setiap bedeng berukuran 1m x4m jika ditanami biji kangkung 500gr, mereka bisa mendapatkan hasil panen sekitar 30-35 ikat kangkung. Belum lagi hasil panen lainnya seperti terong yang kira-kira 3kg/3 hari. Kini Poktan Ngudi Mulyo masih memikirkan ide-ide yang tepat untuk mengolah hasil panen yang bisa dijadikan produk. Sembari jalan menyiapkan hal tersebut, poktan ini justru bercita-cita memiliki warung makan. Ungkap Bu Is, beberapa kali poktan mengadakan simulasi bikin warung. Mereka mencoba mengolah hasil panen lalu disuguhkan kepada anggota, warga sekitar, dan rekan-rekan yang sedang berkunjung. Setelah itu, justru Poktan Ngudi Mulyo didukung oleh warga untuk membuka warung ramesan setiap Sabtu pagi dengan harga yang bersahabat. 

Tidak Melulu Uang, Tapi Juga Sosial

Secara umum, Poktan Ngudi Mulyo tidak terlalu ambil pusing terkait situasi pandemi yang tak kunjung surut. Kegiatan tanam menanam masih tetap berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan. Bagi mereka, bercocok tanam bisa menjadi healing agar tidak jenuh di rumah saat PPKM. Namun tetap saja kecolongan; beberapa anggota dan warga sekitar ada saja yang harus menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah. Kelompok tani yang beranggotakan 30 orang ini, tak habis akal. Mereka justru merespon hal tersebut dengan menjadikan hasil panen sebagai ketahanan pangan bersama. Kebun sayur dan buah-buahan yang sudah digarap bersama menjadi asupan bagi warga sekitar yang sedang menjalani isolasi mandiri. Biasanya, hasil panen dijual kepada anggota dan warga sekitar. Lalu ada juga pesanan dari kelurahan dan kecamatan. Jumlah pesanan pun beragam, yang utama biasanya kebutuhan pokok seperti sayuran, sisanya untuk kebutuhan selingan seperti buah-buahan. Hasil panen ini diinformasikan melalui grup Whatsapp khusus yang selanjutnya diantar sesuai dengan pesanan.

Namun di luar jual-menjual, pada panen yang sebelumnya, ketua poktan memberi usulan untuk tidak memperbolehkan menjual hasil panen. Utamanya ketika beberapa anggota poktan sedang menjalani isoman. Dari hasil panen kebun biasanya yang tersedia adalah sayuran, salah satunya panen bayam. Bu Is menjelaskan bahwa warga yang isoman boleh mengambill secukupnya, yang penting dimasak bukan untuk dijual. Jika sedang panen buah, ada juga misalnya pisang satu sisir yang biasanya dicantelkan di pintu warga yang isoman. Selain sayuran dan buah, warga juga dipersilakan untuk mengambil sendiri sereh dan jeruk nipis yang ada di kebun sesuai kebutuhan untuk membuat wedangan sereh jahe. Sisanya bisa membeli jahe di pasar karena jahe di kebun masih pada masa pertumbuhan. Minuman olahan rempah-rempah ini diyakini oleh banyak orang mampu mencegah berbagai macam penyakit, atau paling tidak dapat menghangatkan badan.

Pada saat itu, Poktan Ngudi Mulyo sepakat bahwa panen tidak melulu untuk uang, tetapi juga untuk sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published.