A Farmer's Hope
Essay
22 Nov 2021

Budidaya Maggot, Banyak Manfaatnya

Pesona maggot di mata pertanian dan peternakan.

Text
Anang Saptoto
Photo
Anang Saptoto
Topics
A Farmer's Hope
Anang Saptoto
Belatung
Black Soldier Fly
Kelompok Tani
Maggot
Poktan Ngudi Mulyo
Share Article

Berawal dari pelatihan Lumbung Mataraman di akhir tahun 2019, Pak Sukardi (44) bersama poktan Ngudi Mulyo kini mulai menjawil maggot. Bagi sebagian orang mendengar kata maggot atau belatung, terbesit rasa heran dan jijik. Namun kini budidaya maggot mulai digemari banyak orang.

Maggot atau belatung merupakan larva yang berasal dari lalat berjenis black soldier fly (BSF). Larva inilah yang dilirik para peternak maupun petani. Bukan tanpa sebab, larva ini memiliki banyak manfaat yang bisa diaplikasikan ke sektor pertanian maupun peternakan.

Setelah mendengar cerita dari Bu Is sebelumnya terkait kegiatan poktan Ngudi Mulyo, kini saya bertemu dengan salah satu anggota yang khusus mengurus budidaya maggot; Pak Sukardi. Dengan sabar, Pak Sukardi menjelaskan kepada saya bagaimana proses awal budidaya maggot di poktan Ngudi Mulyo.

Proses budidaya maggot dimulai dengan bahan utama telur lalat. Telur-telur itu ditaruh di atas tisu lalu disemprotkan air agar kondisi tisu selalu lembab. Setelah 4 hari, telur kemudian telah berubah menjadi larva-larva kecil. 

Tak lupa juga untuk menyediakan dedak yang disirami air gula di sekitarnya. Dedak adalah lapisan luar padi yang terpisah ketika proses penggilingan padi. Dedak inilah yang menjadi asupan bagi larva-larva.

Jika nanti sudah berusia 20 hari ke atas, larva-larva itu selanjutnya sudah mampu untuk mengonsumsi sampah organik, seperti sisa buah dan sayuran. Pemberian buah 2 hari sekali. Buah apa saja. Kita nyarinya jangan yang terlalu berair. Larva yang tidak diberi makan, selanjutnya akan berubah menjadi prepupa, pupa, kemudian menjadi lalat. Butuh  8-14 hari bagi lalat dewasa untuk bereproduksi dan menghasilkan telur lagi.

Panen maggot atau larva dilihat dari ukurannya, jika terlihat sudah cukup besar, maggot dapat dipisahkan ke tempat yang lain. Setelah dipanen, alangkah lebih baik jika terlebih dulu disangrai sebelum dijual. Sebab harga jual maggot basah dan kering berbanding jauh. Harga jual maggot basah hanya Rp10.000/kg, sedangkan maggot kering per satu kilogram bisa sampai Rp100.000 lebih.

Dalam satu kali panen dengan bahan awal telur 3 gram, bisa memanen hingga 20 kg. 

Maggot yang sudah dijual ini memang cenderung dilirik oleh para peternak. Maggot digunakan sebagai bahan pakan unggas, bisa juga bahan pakan beberapa jenis ikan. Manfaat maggot lainnya adalah untuk mereduksi bau atau polusi dari sampah.

Dalam pengelolaannya, Pak Sukardi seringkali memanfaatkan limbah organik rumah tangga sebagai asupan larva. Hal ini mampu mengurangi tumpukan sampah yang terjadi di lingkungan sekitar kampung.

Bagi Pak Sukardi, budidaya maggot ini tergolong susah-susah gampang. Kendala utama dari budidaya ini adalah cuaca dan predator. Cuaca di lahan budidaya lebih baik jika tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, sekitar 26-30 derajat. Untuk perihal predator, kadang kala ada saja cicak dan semut yang mengganggu sarang budidaya maggot.

Artikel ini adalah bagian kedua dari serial yang membahas tentang Kelompok Tani Ngudi Mulyo, Pugeran, Suryodiningratan, Matrijeron, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published.