Asam Garam
Essay
03 Dec 2021

Proses Menanam dengan Bahagia

Semangat kolektif yang berupaya untuk menghasilkan ketahanan pangan bersama.

Text
Panen Apa Hari Ini/Anang Saptoto
Photo
Anang Saptoto
Topics
A Farmer's Hope
Anang Saptoto
Kotagede
Panen Apa Hari Ini
Poktan Purba Asri
Share Article

Proses Menanam dengan Bahagia

Pertengahan Agustus lalu, saya sempat mengunjungi Kelompok Tani (Poktan) Purba Asri, Kotagede, Yogyakarta. Saya bertemu dan berbincang dengan Ibu Sakiyem (48) dan Ibu Yurida Nuvita (44), salah dua anggota aktif Poktan Purba Asri.

Beberapa blok lahan masih ditumbuhi oleh sayuran terong. Terong yang ditanam oleh Poktan Purba Asri adalah jenis terong ungu dan hijau. Kedua jenis ini ditanam bergantian setiap periodenya. Bibit terong sebagian didapatkan dari Dinas Pertanian Kota, namun tak jarang juga dibeli dari toko pertanian untuk menyesuaikan kebutuhan.

Di hari itu, Bu Sakiyem dan Bu Nuvita silih berganti menceritakan proses mereka menanam bersama Poktan Purba Asri. Mulai dari membeli bibit hingga memanen hasilnya.

Biasanya Poktan Purba Asri memulai dengan membeli dari biji. Biji-biji ini direndam terlebih dahulu di dalam air hangat selama setengah jam. Selanjutnya dipindahkan ke wadah berisi tisu. Selang 2 hingga 3 hari, tunas atau kecambah mulai tumbuh dan siap untuk dipindahkan ke media lain untuk disemai. 

Proses menyemai ini bisa memakan waktu sekitar sebulan hingga akhirnya ditanam di lahan. Pada proses menyemai, Poktan Purba Asri menggunakan tanah merah sebagai medianya.

Bibit-bibit ini juga yang biasanya dijual kepada Dinas Pertanian Kota untuk selanjutnya dikelola dan didistribusikan ke Kelompok Tani Kota Yogyakarta.

Untuk proses menanam di lahan, mereka memulai dengan menggemburkan tanah. Biasanya sudah dicampuri dengan pupuk kandang kambing, sekam, lalu ditambah juga arang yang sudah halus. Idealnya takaran kandungan tanah dengan pupuk kandang dan sekam adalah 1 : 1. Namun bisa tetap disesuaikan dengan feeling untuk menyesuaikan dengan luas lahan tutur Bu Nuvita.

Gundukan tanah selanjutnya diberi lubang menggunakan gathul. Jarak tanam setiap jenis sayuran biasanya berbeda. Untuk jenis terong berjarak 60 cm, kalau cabe dan tomat berjarak 40 cm. Untuk sayuran sawi, langsung di polybag

Aktivitas menyemai bibit rutin dilakukan oleh Poktan Purba Asri, misalnya setelah menanam terong selanjutnya mereka akan lanjut dengan menanam yang lain. Pemilihan jenis sayuran yang akan ditanam juga tergolong bebas. Kecuali ada pesanan khusus dari Dinas Pertanian Kota Yogyakarta atau dari kelompok-kelompok lain yang memiliki kegiatan.

Ada yang menarik dari kegiatan menanam bersama Poktan Purba Asri. Mereka tak hanya melulu mengerjakan hal-hal terkait bercocok tanam, Poktan Purba Asri juga menjadi ruang untuk berkumpul bersama. Bahkan di masa Covid-19 ini, lahan dijadikan area untuk berjemur di pagi hari sekaligus melakukan aktivitas pertanian.

Selain itu, seperti yang dilakukan bapak-bapak anggota tani yang menjadikan kebun sebagai tempat jagongan di malam hari. Ditemani pencahayaan dari kebun, mereka berkumpul saling bertukar cerita dengan anggota lain. Tentu sembari menyiram kebun di malam hari.Inilah yang menjadi nilai lebih dari Poktan Purba Asri. Semangat kelompok ini untuk terus menanam didasari oleh rasa kesenangan bersama.

Ketahanan Pangan Bersama

Secara tidak langsung dampak dari pandemi juga dirasakan oleh Poktan Purba Asri. Situasi yang tidak menentu sedikit banyaknya mempengaruhi kerja kelompok. Salah satunya adalah terkait Sumber Daya Manusia. Beberapa anggota kelompok tani terpaksa harus menjalani isolasi mandiri ataupun menjaga sanak keluarga yang sakit.

Kegiatan bercocok tanam tetap dilakukan. Selain sebagai kesenangan bersama, juga sebagai ketahanan pangan bersama. Saya tertarik untuk bertanya kepada Bu Sakiyem dan Bu Nuvita tentang bagaimana hasil panen dan kemana saja hasil tersebut didistribusikan. 

Untuk beberapa jenis tanaman, Poktan Purba Asri harus menunggu 3 bulan untuk memanen apa yang ditanam. Sebelumnya tentu saja kebun dirawat dengan asupan pupuk urea dan pupuk NPK (nitrogen, phospat, dan kalium). Tak lupa juga untuk disiram setiap pagi setiap hari. Kadang kala juga di malam hari.

Dari kerja keras itu, untuk tanaman terong, Poktan Purba Asri bisa memanen 7 buah terong dalam satu pohon. Dalam satu blok lahan, setidaknya terdapat 50 bibit yang ditanam. 

Setelah panen, biasanya pohon akan kembali berbuah dan selanjutnya bisa dipanen kembali dengan kisaran waktu hingga 2 bulan. Dari jumlah panen terong Poktan Purba Asri ini tergolong cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan setiap anggotanya. 

Panen yang terkumpul diprioritaskan dijual kepada para anggota terlebih dahulu dengan harga di bawah harga pasaran. Lalu tetangga atau lingkungan rumah, terkadang juga didistribusikan ke warung-warung. Ketika sudah sampai pada waktunya (panen), informasi jual-beli disampaikan melalui grup WhatsappTidak hanya sampai di situ, hasil panen terong juga dikembangkan oleh Poktan Purba Asri dengan cara dimasak. Olahan terong balado, lodeh terong, dan semacamnya disajikan oleh beberapa anggota untuk dimakan bersama-sama.

Inisiatif atau pengembangan inilah yang bisa jadi membuat Poktan Purba Asri bertahan dengan tetap melakukan kesenangan bersama. Menurut saya, dalam situasi pandemi, hal semacam ini bisa menjadi alternatif untuk setidaknya menjadi ketahanan pangan bersama. 

Artikel ini adalah bagian pertama dari serial yang membahas tentang Kelompok Tani Purba Asri, Purbayan, Kotagede, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *