Asam Garam
Essay
25 Feb 2022

Membayangkan Ayam

Mengeksplorasi bagaimana manusia melihat dan memaknai ayam dari waktu ke waktu.

Text
Teuku Reza Fadeli
Illustration
Adam Noor
Topics
Chicken
Chicken Chronicles
History
Share Article

Ayam selalu lekat dalam imaji manusia. Diagungkan dalam beragam karya seni, ditempatkan secara sakral di berbagai ritual, dijadikan simbol akan kuasa, hingga disajikan dalam berbagai bentuk hidangan. Ayam telah menjadi pokok kajian etnografi di Bali, hingga objek lukisan tersohor karya Affandi, dari ayam pejantan ke ayam cemani, ayam selalu punya tempat di dalam kebudayaan manusia, akrab dengan kehidupan sehari-hari. Menelusuri kisah tentang ayam juga berarti berupaya memahami hubungan manusia dengan lingkungannya, mempertanyakan ulang perihal konsumsi dan masa depan bumi. Tulisan ini mengeksplorasi bagaimana manusia melihat dan memaknai ayam dari waktu ke waktu serta mempertanyakan bagaimana interaksi kedua spesies ini di masa depan, juga yang terutama, menempatkan ayam lebih dari sekadar komoditas dan santapan belaka.

Ayam merupakan unggas hutan yang (hampir) tidak bisa terbang ataupun bermigrasi dalam jarak yang jauh. Meski demikian, ayam dapat ditemukan di mana-mana, serta merupakan salah satu spesies yang memiliki angka persebaran terbesar di dunia. Persebaran ayam bertalian erat dengan aktivitas manusia, terutama kegiatan pertanian dan peternakan. Dilansir dari FAO (Food and Agriculture Organization), hingga tahun 2020, jumlah populasi ayam secara global mencapai 33 miliar. Hampir seluruh spesies ini hidup di dalam bayang-bayang domestifikasi, dan menjadi salah satu komoditas utama dari rantai makanan modern yang diciptakan oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu.

Temuan arkeologis menunjukkan bahwa ayam telah menjadi hewan yang dipelihara oleh manusia, terutama di wilayah utara China sejak sekitar 10,000 tahun lalu. Penjelasan lain menerangkan bahwa ayam telah didomestifikasi di Thailand pada kurun waktu yang hampir bersamaan. Sedangkan di daratan Eropa, ayam pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Fenisia yang turut membawa hewan ini di dalam perjalanan mereka di abad ke-8 SM. Sekitar tahun 800 SM, peradaban Romawi telah mengembangkan teknik ternak ayam untuk menjadi produk kuliner seperti omelet ataupun ayam Parthian. Setidaknya, persebaran ayam adalah peletak dasar yang memberikan petunjuk bagaimana migrasi dan interaksi manusia membentuk peradaban modern.

Meskipun kini dikembangbiakkan dan dikonsumsi secara besar-besaran, pada awalnya, domestifikasi ayam tidak selalu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan, melainkan untuk berbagai kegiatan seperti hiburan ataupun ritual keagamaan. Di Persia Kuno misalnya, lewat kepercayaan Zoroaster, kokok ayam saat fajar adalah penanda pergantian dunia kosmik, kelam dan benderang. Kemudian di Mesir, telur ayam digantung di kuil-kuil untuk memberkati aliran sungai yang melimpah. Selain itu, sejarah mencatat bahwa masyarakat ibukota Mesir Kuno, Thebes, pernah dibuat terpukau karena menyaksikan arak-arakan mewah yang membawa empat ekor ayam sebagai upeti kiriman dari para pemuka Babilonia Kuno. Momen tersebut menandakan bahwa ayam telah masuk ke dalam leksikon kebudayaan Mesir Kuno, serta pernah ditempatkan secara istimewa di dalam peradaban manusia.

Ayam juga memiliki kisah tersendiri di Indonesia. Menurut catatan antropolog asal Amerika Serikat, Clifford Geertz, sabung ayam (tajen) di Bali adalah kegiatan sakral yang menyimbolkan perkara spiritual, maskulinitas, dan kompleksitas masyarakat Bali yang telah berlangsung sejak abad ke-10. Aktivitas ini masih berlangsung setidaknya hingga tahun 1950-an, ketika Geertz mengunjungi Bali. Bagi Geertz, ayam jantan (jago) yang diadu pada esensinya adalah laki-laki. Jago adalah refleksi dari moralitas dan patriarki di dalam kehidupan sehari-hari, mengungkap sisi hewani manusia yang menjelma dalam tubuh jago. Tema ini juga familiar di dalam glosari sejarah Indonesia. Sejarawan Robert Cribb, membahas bagaimana para jago atau jagoan yang terlibat di dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Laskar-laskar perjuangan dan beragam ormas (organisasi kemasyarakatan) menjadi wadah bagi para jago untuk berpartisipasi di dalam gerakan militer melawan kolonialisme. Di sisi lain, jago juga adalah bagian dari kelompok-kelompok yang hadir di pedesaan, melakukan teror dan ancaman. 

Istilah jago juga digunakan untuk kepentingan komersil. Sebagai contoh, salah satu produsen jamu tertua asal Wonogiri, Jamu Jago, menggunakan ikon ayam jantan sebagai simbol perusahaan, yang menandakan kemanjuran secara turun-temurun. Sebaliknya, jamu yang memiliki simbol ayam betina, menggambarkan sensualitas dan kesuburan.

Ayam juga ditempatkan secara khusus oleh banyak seniman di dalam beragam karya seni dan kesusastraan. Beberapa di antaranya adalah “Feeding the Chickens” karya Walter Osborne, “Domestic Cock, Hens and Chicks” karya Francis Barlow, “Rooster” karya Katsushika Hokusai, atau sejumlah karya pelukis Indonesia, Affandi, yang menjadikan ayam sebagai objek utama, seperti di lukisan Sabung Ayam. Melalui lukisan, kita dapat memahami bagaimana ayam memiliki ikatan dengan manusia. Dua karya pertama di atas, sebagai contoh, menempatkan ayam di ranah domestik bersama-sama dengan perempuan. Hal ini menegaskan apa yang diungkapkan oleh Susan Squirer di dalam bukunya, “Poultry Science, Chicken Culture, bahwa perempuan sama dengan ayam karena sama-sama menghasilkan “telur”, serta tubuh keduanya dipaksa tunduk pada hasrat yang dibentuk dan didominasi oleh laki-laki. Melalui pengamatan lukisan ayam di atas, kita dapat melihat bagaimana hierarki gender, eksis, baik secara sadar maupun tidak sadar di alam pikiran para seniman ataupun masyarakat di masa lalu.

Di dunia modern, permasalahan ayam menjadi penting di dalam konteks ekonomi, sosial, politik. Pada tahun 2005, ayam pernah menjadi sumber epidemi flu burung, situasi yang menjadi latar dalam Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak. Di Mexico City, tahun 2012, harga telur melonjak sebagai imbas dari dimusnahkannya sejumlah besar ayam yang terkena wabah. Situasi ini memicu aksi sosial yang menuntut pemerintahan, melahirkan apa yang dikenal “The Great Egg Crisis”. Pada tahun yang sama, demonstran yang berunjuk rasa saat krisis di Mesir dan Iran juga menyampaikan protes terhadap ketidakadilan dengan mengatakan menyantap ayam adalah simbol kemewahan yang hanya dapat dinikmati oleh masyarakat kelas atas dan tidak dapat dijangkau oleh sebagian besar masyarakat. Ayam dapat memunculkan gerakan sosial yang disebabkan oleh kemelut ekonomi-politik seperti yang terjadi di Timur Tengah. Akan tetapi, kisah berbeda dapat ditemukan di dunia Barat, di mana ayam memiliki peran baru di banyak keluarga kelas menengah perkotaan. 

Sejak berabad lalu, ayam telah menjadi peliharaan di banyak rumah tangga, dan bagian dari diet maupun konsumsi keluarga di banyak tempat, terutama di wilayah pedesaan. Belakangan, ayam hadir di perkotaan, tidak dalam bentuk makanan, melainkan sebagai peliharaan. Situasi ini umum ditemukan terutama di halaman belakang rumah masyarakat urban di banyak kota metropolitan Eropa dan Amerika Serikat. Seperti yang ditunjukkan Susan Orlean dalam artikelnya di The New Yorker tahun 2009, ayam kembali populer menjadi “the ‘it’ bird”. Hal ini sejalan dengan gerakan locavore yang saat itu sedang berkembang secara sporadis di banyak rumah tangga yang mengedepankan diet dengan mengkonsumsi makanan organik dan bersifat lokal, baik ditanam atau dibesarkan sendiri oleh konsumen.

Melihat kembali angka dari FAO di atas, gerakan akar rumput yang menitikberatkan aspek konsumsi jauh lebih relevan di dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dua dekade sejak tahun 1990, angka produksi unggas secara global naik lebih dari 160 persen. Produksi unggas dalam skala besar memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan (polusi dan deforestasi), manusia (penggunaan antibiotik unggas yang berdampak terhadap asupan nutrisi), serta ayam itu sendiri. Berbeda dengan sapi, yang secara umum memiliki perlindungan hukum, ayam kurang mendapat perhatian dari pelaku industri. Hampir seluruh ayam, terutama broiler, yang dikembangbiakkan di peternakan skala besar, hidup dan mati dalam keadaan yang mengenaskan. Pengembangbiakan ayam broiler adalah puncak dari kemapanan teknologi pangan, sekaligus salah satu wujud kekerasan manusia yang paling besar terhadap spesies lain. 

Melihat, memperlakukan, dan menempatkan ayam secara lebih dekat akan membuka hubungan baru yang lebih bermoral serta berkesinambungan dengan alam. Jadi, ketika mencicipi ayam, entah dalam sajian seperti hainam, kung pao, tikka, fajitas, kalasan, betutu, woku, taliwang, ataupun penyet, mungkin kita tidak hanya dapat menikmati cita rasanya, tetapi juga membayangkan bagaimana ayam telah hadir di dalam sejarah peradaban manusia dan yang lebih penting lagi bertanya, apa kisah di balik setiap sajian kita? Because, we are what we eat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *