A Farmer's Hope
Essay
23 Mar 2022

Petok-Petok-Petok, Catatan Ayam dari Lendah sampai London

Bermula dari telur ayam kampung hingga menjadi karya baru.

Text
Panen Apa Hari Ini/Anang Saptoto
Photo
Anang Saptoto
Topics
A Farmer's Hope
Anang Saptoto
Ayam
Chicken Chronicles
Panen Apa Hari Ini
Share Article

Sejak pandemi COVID-19 melanda Yogyakarta, saya mencoba menjalankan proyek baru bernama Panen apa hari ini (Pari). Sebuah proyek yang menggabungkan kerja-kerja seni dan pertanian, dengan konsep dasar distribusi hasil panen dan publikasi aktivitas seputar pertanian. 

Bagi saya, Pari adalah ruang belajar, jembatan penghubung batas-batas yang sebelumnya tidak mungkin saya kenal. Pari memiliki energi positif dan prioritas pelestarian lingkungan dalam konteks pertanian. 

Salah satu fase penting dalam proses perjalanannya adalah saya dipertemukan dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Langgeng Makmur. Sebuah kelompok tani yang diinisiasi ibu-ibu di Desa Lendah, Kulonprogo. Hampir sebagian besar dari 30 anggotanya adalah ibu-ibu rumah tangga. Mereka bersepakat dan berserikat membuat kelompok tani, dan menjalankan usaha-usaha mandiri untuk mensejahterakan anggota, kelompok, dan lingkungannya. 

Usaha-usaha kelompok yang mereka lakukan di antaranya adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Langgeng Makmur; budidaya telur ayam kampung; budidaya jamur tiram; toko kelontong Langgeng Makmur; dan lahan kelompok yang dikelola bersama. 

Usaha-usaha kelompok ini terbukti sangat maju. KWT Langgeng Makmur, melalui BMT, berhasil mencapai aset lebih dari Rp500.0000.000 dalam 5 tahun. Begitu juga budidaya telur ayam kampung, kebutuhan pasarnya sangat besar, sehingga mereka harus berpikir keras dalam mengatur manajemen budidaya ayamnya, maupun hasil telur ayam kampungnya. 

Sebagai contoh, pada setiap publikasi hasil panen dari banyak kelompok tani setiap minggunya, Pari berhasil membantu KWT Langgeng Makmur mendistribusikan telur ayam kampungnya lebih dari 100 telur.  

Pelanggan-pelanggan Pari sebagian besar dari Kota Yogyakarta. Terdiri dari banyak wilayah, kategori umur, pekerjaan, dan lain-lain. Pari mempublikasikan dan melayani pemesanan melalui sosial media (@panenapahariini), website (parikolektif.com), maupun chat WhatsApp (WA). Tak jarang, Pari berkesempatan membuat peristiwa-peristiwa kreatif seperti pasar tiban, pameran, pelatihan,  diskusi antar komunitas, dan virtual trip di lahan kelompok tani.

Memilih mengambil telur di usaha kelompok, dari pada mengambil telur di tempat budidaya 

Di awal menjalankan distribusi telur ayam kampung KWT Langgeng Makmur, biasanya di awal minggu, saya memulai berkoordinasi dengan kelompok. Karena jarak dari rumah saya sampai Lendah, Kulonprogo bisa mencapai 30 km, saya hanya melakukan koordinasi melalui chat WA atau telepon. Saya memesan dan mengambilnya sedikit demi sedikit. Mulai dari 50 telur, hingga 150 telur ayam kampung perminggu. Setelah itu biasanya saya mulai mengeluarkan publikasi. 

Penjemputan telur saya lakukan di akhir minggu, sembari mengajak keluarga jalan-jalan ke Desa Lendah menikmati bentangan sawah dan alam pedesaan. Mobilitas yang jauh terasa  menyenangkan dan tak menjadi beban. 

Saya mendistribusikan telur dengan mengemasnya per-pack isi 10 telur. Biasanya pelanggan-pelanggan Pari beli antara 1-3 pack. Bagi yang memesan lebih dari 4-5 pack itu biasanya titipan dari banyak pelanggan dalam 1 kantor. Rata-rata mereka menjadi pelanggan tetap di setiap publikasi yang saya keluarkan. 

Sistem pembeliannya memang tidak bisa dadakan, kecuali ada sisa stock yang tersedia. Hal ini menjadi alur yang Pari dan KWT Langgeng Makmur sepakati. Sebab mereka juga perlu mengatur jadwal pemesanan. Dalam titik ini, pengaturan dilakukan oleh toko kelontong KWT Langgeng Makmur. Selain melakukan penjadwalan, mereka juga melakukan manajemen pakan ayam dan perhitungan laba baik ke anggota maupun ke kelompok.  

Meski saya dapat mengakses dan menengok proses budidaya telur ayam kampung yang mereka lakukan di salah satu rumah anggotanya. Bisa saja saya langsung membeli di situ. Namun saya menghormati dan menghargai kesepakatan kelompok. Artinya, dalam hal ini timbul rasa saling  percaya antara Pari dan KWT Langgeng Makmur. 

Pari percaya, kelompok membutuhkan laba dari hasil budidaya yang mereka titipkan di salah satu anggotanya. Dinamika ini menarik, kami saling belajar. Kekurangan adalah temuan yang biasa kami diskusikan. Tujuannya tak lain adalah bagaimana agar kami bisa saling memajukan satu sama lain. Proses ini kami lakukan lebih dari satu setengah tahun. Hingga pada satu momen, di pertengahan tahun 2021, budidaya telur ayam kampung KWT Langgeng Makmur melakukan  peremajaan. 

Kami harus istirahat sejenak, menunggu ayam-ayam generasi baru tumbuh agak besar. Bagi ibu-ibu KWT Langgeng Makmur, hal ini adalah proses yang wajar. Mereka tidak merasa harus buru-buru selayaknya bisnis-bisnis ayam petelur besar pada umumnya.

Terlibat dengan proyek masakan dengan teman-teman di London 

Proyek yang saya ikuti ini berjudul “Cookbook, Have You Eaten?”. Sebuah proyek  pendokumentasian menu-menu makanan keluarga yang hasil akhirnya menjadi buku. Proyek ini diinisiasi oleh kurator Rhine Bernardino (UK) yang mengundang dan berkolaborasi dengan banyak koki dan seniman di skala global. 

Kolaborator saya kebetulan seorang perempuan bernama Haruko Uchishiba, seorang ibu yang  berasal dari Jepang, namun tinggal di London. Dia menghadirkan masakan bernama “Nishime” atau bisa juga disebut “Nimono”. Makanan ini biasa dimasak pada momen-momen spesial, seperti pergantian tahun. 

Saya merespon menu yang dimasak Haruko ini melalui bahan-bahan hasil tani. Dari respon ini, saya berhasil mengembankan seri karya baru bernama “Anomali”. 

Karya ini merupakan pengembangan baru dari perjalanan saya dalam proyek Panen apa hari ini (Pari). Sebelumnya, saya lebih banyak membuat kolase foto potret petani dan hasil pertaniannya, serta pelanggan Pari dengan hasil tani yang mereka beli.  

Kali ini saya mengolah foto-foto hasil pertanian tersebut dengan detail tubuh-tubuh petani dan pelanggan Pari. Saya olah dengan produk hasil pertanian. Saya menyebut seri baru ini dengan judul “Anomali” karena kolase antara produk pertanian dan detail tubuh terkadang menghasilkan foto-foto bagian tubuh yang aneh dan jenaka. Mengajak kita membayangkan sesuatu yang baru, di luar batas-batas kewajaran. 

Pada proyek “Cookbook, Have You Eaten?”, saya merespon dengan 3 karya baru. Saya mengembangkan respon visual dengan ide dasar bahan-bahan produk pertanian yang dipakai Haruko Uchishiba, yaitu wortel, jamur Shiitake, dan ayam. Saya mencoba mencari bahan-bahan yang dipakai Haruko dari produk-produk pertanian yang ada di Yogyakarta. 

Bahan-bahan yang saya temukan lalu saya foto di studio. Saya menggabungkan dengan beberapa bagian tubuh. Salah satunya tubuh Haruko sendiri sebagai pengguna hasil tani. Persinggungan konteks antara pertanian, pengolahan, serta ruang sosial yang ada di Lendah, Kulonprogo dan London menjadi satu perpaduan rasa visual yang segar dan menggoda. 

Meski belum secara langsung dapat menghubungkan kedua kelompok antar wilayah, namun langkah-langkah sederhana seperti menghubungkan konteks dan praktik lintas disiplin ini menarik sebagai awal pembuka wawasan baru dan keberlanjutan. Sayur, seni, segar!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *