Behind The Dish
Essay
18 May 2022

Praktisnya Ayam Rôtisserie bagi Pelajar Indonesia di Maroko

Apa yang membuat Poulet Rôti sangat menarik bagi para pelajar Indonesia di Maroko?

Text
Prinka Saraswati
Photo
Prinka Saraswati
Topics
Ayam Rôtisserie
Chicken
Chicken Chronicles
Morocco
Poulet Rôti
Travel
Share Article

“Ngapain beli?” adalah kalimat yang sering dilontarkan oleh ibu maupun tante dan bude saya saat saya lebih memilih untuk makan di luar. Wejangan klasik untuk menghemat duit salah satunya adalah, “Daripada beli, mending masak sendiri”. Wejangan ini memang benar untuk diterapkan di berbagai budaya dan tempat; terkecuali untuk Poulet Rôti di Maroko.

Poulet Rôti adalah ayam yang dipanggang dengan cara memutar atau biasa disebut rôtisserie dalam bahasa Prancis. Teknik ini disebut-sebut sudah dilakukan sejak abad pertengahan di Eropa; daging utuh, semisal ayam, yang sudah dibersihkan, ditusuk dengan tombak kayu maupun besi, dan dimasak dengan cara diputar di atas lidah api yang menyala selama berjam-jam. Teknik ini pun berhasil membuat daging utuh yang semula liat menjadi lembut dan matang secara rata. Napoleon Bonaparte pun amat menyukainya hingga ia dikabarkan membekali dirinya sendiri dengan tiga Poulet Rôti yang dibungkus kertas pada ekspedisinya ke Isthmus Suez (Kanal Suez) di Mesir pada 1798. Ekspedisi ini hanyalah satu dari sekian ekspedisi yang dilakukan Prancis untuk menaklukkan dan akhirnya, menjajah daratan utara Afrika – salah satunya Maroko. Masa penjajahan Prancis dari tahun 1912 hingga tahun 1956 memiliki pengaruh besar pada budaya Maroko hingga saat ini; termasuk di bidang kuliner. 

Poulet Rôti adalah satu dari sekian kuliner Maroko yang dipengaruhi budaya Prancis. Setiap jam makan siang, depot rotisserie akan ramai dikunjungi para pekerja berjas, bapak-bapak yang bekerja di pasar, hingga pelajar Indonesia. Di negeri matahari terbenam (Al-Maġhreb al-aqṣā), sebutan untuk Maroko, komunitas pelajar Indonesia adalah salah satu yang erat walaupun tak sebesar di negara-negara lain. Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Maroko baru diresmikan pada tahun 1992 oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Maroko pada saat itu, Dr. Boer Mauna.

Pilihan belajar di Maroko memang tak selazim di Mesir dan Arab Saudi, tetapi Maroko, dengan posisinya yang dekat dengan Eropa, serta budayanya yang banyak dipengaruhi Arab, Portugis, Spanyol, dan Prancis,  mempunyai daya pikat tersendiri. Pelajar Indonesia dapat ditemui di beragam kota besar, seperti Rabat, Marrakech, Fes, dan Casablanca. Seorang pelajar bernama Iwanda Yogi Saputra menceritakan pilihan makanan hematnya, “Ada ayam yang berputar terus. Di tiap kota, dari Fes sampai Marrakech, ayamnya nggak pernah berhenti berputar”. 

Seratus persen pelajar yang saya tanya menjawab bahwa mereka sudah tak asing dengan sajian ayam ini; Poulet Rôti. Dengan 20 hingga 25 dirham Maroko atau sekitar 38 ribu rupiah, ¼ ayam broiler dengan kulit yang garing disajikan dengan ubo rampe khas Maroko; adas (kacang lentils yang direbus), daghmira (kuah berisi jeroan ayam dan bawang bombay), khobs (roti berkubah khas Maroko) atau pilaf (Nasi Kuning berbumbu Saffron). Jangan terkecoh, ¼ porsi ayam broiler di Maroko sudah setara dengan porsi tukang di Indonesia. 20 dirham Maroko dan anda sudah menikmati satu piring besar ayam beserta nasi atau roti dan ubo rampe lain; sementara harga ayam 1 kilo bisa mencapai 70 dirham di supermarket? Rasanya seorang akuntan perlu hadir untuk menghitung ongkos produksi sajian ayam ini. 

Sejak kemajuan industri peternakan, impor ternak berlebih, dan semakin mudahnya distribusi ternak, rôtisserie hadir sebagai solusi untuk mengolah ayam yang menuju masa kadaluarsa. Hal ini yang menyebabkan penjual ayam rôtisserie dapat menjualnya dengan harga yang murah. Tetapi rayuan Poulet Rôti tidak berhenti pada urusan harga, apalagi rasa. Tergantung pada siapa yang anda tanya, bagi beberapa mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang sudah terbiasa dengan cita rasa Indonesia yang kaya rempah, Poulet Rôti terasa kurang menggugah. “Tergantung belinya di mana. Ada yang enak, ada yang hambar. Ya begitu-begitu saja, kok”, ujar salah satu pelajar Indonesia yang memilih anonim.

Lalu kenapa masih tertarik untuk menikmatinya?

Tujuh dari 10 pelajar menjawab bahwa alasan utama mereka menikmati Poulet Rôti adalah kepraktisannya. Sisanya barulah menjawab dengan alasan harganya yang murah. Urusan rasa dan harga memang subjektif; tetapi salah satu pelajar berkata, “Yang penting masih bisa masuk mulut dan nggak repot”. Berkat porsinya yang cenderung besar, tak jarang ayam panggang ini akhirnya dibungkus dan nantinya diolah kembali di rumah. “Biasanya saya potong kecil-kecil terus jadi topping untuk Nasi Goreng, atau digoreng lagi juga bisa untuk lauk”, ujar Iwanda Yogi Saputra, pelajar Indonesia di Casablanca. Dengan strategi ketahanan pangan (dan dompet) yang cerdik, 25 dirham setara dengan dua kali makan – tanpa repotnya memutar knop di oven. Ngapain masak? 

Poulet Rôti Terbaik di Maroko, rekomendasi kawan-kawan PPI. 

Rabat

Abou Samy
669 Avenue Al Massira. No 1, Amal 5. 

Rôtisserie Tout Va Bien
89 Avenue de la Résistance, Rabat.

Casablanca

Chez Reda
4 Bd d’El Hank, Bourgogne

ZORBA
Ayamnya juicy, well-roasted; tapi dari segi bumbu nggak terlalu meriah – nasi pilafnya harum
Rue Faidi Khalifa (dekat bundaran menuju Rue Ouled Ziane)

Espace Egrane
Poulet Rôtinya bikin otomatis sujud, bumbunya merasuk; Chawarma dan Plat Chawarmanya pun patut dicoba – saus ijo Chawarmanya… hmm,
zwina! Sedap!
93 Bd Rahal El Meskini, Casablanca 20250

Tanger

Restaurant Yassin
Avenue Aicha Moussafer

Tetouan

Maakoulat Walima Tetouan
Ancienne Gare Routiere, Avenue Chakib Arsalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *