Behind The Dish
Recipe
25 May 2022

Semangkuk Ayam Arak untuk Ibu

Cerita dari semangkuk ayam arak yang lebih dari sekadar hidangan.

Text
Charlenne and Olivia from Suara Peranakan
Photo
Suara Peranakan
Topics
Ayam Arak
Chicken Chronicles
Family
Suara Peranakan
Share Article

Aroma menyengat arak dan jahe tercium dari dapur keluarga saya pada akhir Februari lalu. Di meja makan, tersaji ayam arak. Masih hangat, tanda bahwa hidangan tersebut baru selesai dimasak oleh ibu saya.

“Makan. Sehat ini,” ujarnya. “Biasanya, kalau orang habis melahirkan, dikasih makan ini.”

Sekadar disclaimer, tak ada satu pun anggota keluarga saya yang baru melahirkan. Namun, ibu saya tidak salah. Dalam budaya Tionghoa, hidangan berkuah kecoklatan ini memang umum dikonsumsi oleh ibu yang baru saja melahirkan untuk memulihkan diri.

Lebih dari sekadar hidangan

Di Tiongkok dan negara berbahasa Mandarin lainnya, sajian ayam arak lebih dikenal dengan nama 麻油雞 (pinyin: má yóu jī) alias ayam minyak wijen. Sebab, alih-alih minyak sawit, hidangan ini dimasak menggunakan minyak wijen. Namun, dalam bahasa Hakka dan Hokkien, menu ini tetap disebut sebagai 雞酒 (romanisasi: kiê-é tsieú; ke-tsiú) alias ayam arak.

Ayam arak pun banyak variasinya. Misalnya, beberapa resep keluarga mewajibkan pemakaian minyak wijen hitam yang memiliki aroma lebih tajam. Ada juga variasi yang mengandung gojiberi, sebuah makanan super dengan kandungan vitamin dan mineral yang tinggi.

Salah satu versi yang paling umum mengandung bahan khas daun ka chiang mai, yang dikenal juga dengan sebutan 益母草 (pinyin: yì mǔ cǎo) atau chinese motherwort (Leonurus japonicus). Daun ka chiang ma telah digunakan dalam pengobatan tradisional Tionghoa untuk membantu masa pasca-persalinan atau mengatasi masalah yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi seperti pendarahan atau sakit menstruasi. Daun ini bahkan juga dipercaya dapat memperlancar ASI.

“Arak” yang dimaksud dalam hidangan ini biasanya mengacu kepada arak beras (Chinese rice wine) yang ditambahkan saat mendekati akhir proses memasak. Menurut ilmu medis tradisional Tionghoa, arak beras dapat membantu memperlancar peredaran darah dan membersihkan lochia (pendarahan pasca-persalinan). Teori tersebut mungkin bertolak belakang dengan nasihat medis saat ini. Maka itu, umumnya ayam arak dimasak hingga konten alkohol di dalamnya sudah menguap.

Setiap elemen dalam ayam arak sengaja dipilih untuk mempromosikan kesehatan ibu baru. Namun, perlu diketahui, mengonsumsi hidangan ini hanya merupakan bagian kecil dari serangkaian tradisi dan kepercayaan tradisional mengenai perawatan pasca-persalinan dalam budaya Tionghoa.

Kehangatan untuk ibu lewat zuò yuè zi

Tradisi pingitan setelah melahirkan (postpartum confinement) dalam budaya Tionghoa dikenal juga dengan sebutan 坐月子 (pinyin: zuò yuè zi) atau 做月內 (romanisasi: tsuè-ge̍h-lāi) dalam Bahasa Hokkien yang secara harafiah berarti duduk selama sebulan. Praktik ini dilakukan selama 40 hari pasca-melahirkan.

Secara garis besar, zuò yuè zi dimaksudkan untuk memulihkan tubuh sang ibu dan menghindari penyakit di masa yang akan datang. Kepercayaan Tionghoa merumuskan bahwa ketika mengandung, temperatur tubuh ibu meningkat, dan turun drastis setelah melahirkan. Hal ini sejalan dengan tradisi zuò yuè zi yang banyak berfokus pada kehangatan bagi tubuh sang ibu. Pantangan-pantangan dalam zuò yuè zi antara lain tidak boleh minum air dingin, tidak boleh memakan sayuran yang berunsur “yin” (dingin) seperti labu siam atau timun, tidak boleh mandi, tidak boleh keramas, tidak boleh keluar rumah agar tidak “kena angin”, tidak boleh berhubungan seksual dengan suami, dan hanya boleh makan makanan yang menguatkan (ciak po).

Meski terdapat banyak larangan atas makanan yang dikonsumsi sang ibu, ayam arak hanyalah salah satu dari beragam jenis olahan ayam dan babi yang dapat dikonsumsi oleh sang ibu. Tentunya, variasi masakan juga beragam dalam setiap rumah tangga. Misalnya, ibu saya dulu menyantap berbagai masakan ayam, seperti ayam kunyit, ayam jahe, ayam angkak … dan tentunya ayam arak.

Zuò yuè zi bukan hanya dipercaya bermanfaat bagi kesehatan fisik sang ibu, melainkan juga kesehatan mental. Secara tradisional, zuò yuè zi identik dengan dukungan sosial yang diterima sang ibu sebagai suatu bentuk pengakuan atas pergantian status sosialnya. Hidangan-hidangan yang disajikan untuk ibu baru, termasuk ayam arak, biasanya dimasak oleh ibu atau ibu mertua dari sang ibu baru. Kerabat-kerabat perempuan lainnya juga bergiliran datang untuk menjenguknya dan membantu pekerjaan rumah tangga lainnya yang dibutuhkan. 

Ketika tradisi bertemu dengan modernitas

Budaya Tionghoa memang memiliki stereotip pelit dengan kata-kata. Para tetua cenderung mengekspresikan rasa cinta kasih dan kepedulian mereka dengan tindakan-tindakan pelayanan yang nyata. Dengan demikian, hidangan ciak po seperti ayam arak melambangkan sambutan hangat dari para perempuan dalam seluruh keluarga besar bagi sang ibu. Suatu pertunjukan dukungan dan solidaritas yang seakan mengatakan, “Kami siap hadir untuk kamu dan bayimu, sekarang dan selamanya.”

Namun, seiring zaman yang semakin modern, tradisi ini juga dapat berbalik menjadi hal yang memberatkan bagi sang ibu, misalnya karena konflik dengan ibu mertua atau tekanan yang dialami sang ibu ketika berhadapan dengan nilai-nilai tradisional dan modern yang tak selalu dapat berjalan seiringan, juga dukungan sosial yang semakin berkurang. Menurut sebuah studi, aspek-aspek menyulitkan dari zuò yuè zi dapat meningkatkan perasaan kesepian yang berujung pada depresi pasca-melahirkan (postpartum depression).

Untungnya, tradisi ini lambat laun mulai diseimbangkan dengan perkembangan zaman. Terlebih, kualitas hidup yang semakin baik membuat larangan-larangan zuò yuè zi tak lagi relevan. Misalnya, larangan mandi dan keramas karena takut dingin dapat diatasi dengan mandi air hangat. Larangan tidak boleh keluar rumah karena takut kena angin juga dapat diatasi dengan menggunakan baju yang tertutup dan hangat.

Para ibu baru yang memerlukan dukungan luar keluarga juga kini memiliki beberapa opsi apabila keadaan finansialnya dapat menyanggupi. Misalnya, dewasa ini, sangat mudah ditemukan paket katering makanan ciak po. Ada pula jasa encim, yang disediakan oleh seorang 月內姨 (romanisasi Hokkien: Gue̍h-lāi î) (confinement lady, biasanya perempuan paruh baya). Gue̍h-lāi î tak hanya membantu untuk menyiapkan dan menjaga makanan yang dikonsumsi sang ibu, tetapi juga membantu sang ibu untuk mematuhi pantangan yang ada, serta merawat dan menjaga bayi yang baru lahir. Beberapa sentra zuò yuè zi dengan layanan 24/7 juga mulai bermunculan di beberapa negara tertentu, seperti di Tiongkok.  

Masih bertahannya tradisi zuò yuè zi hingga kini bukanlah kebetulan semata. Tradisi zuò yuè zi adalah perlambang gigihnya kasih yang diwariskan oleh leluhur Tionghoa kepada setiap ibu yang baru melahirkan, dari generasi ke generasi. Rupanya, hidangan ayam arak menyimpan makna yang lebih dalam dari mangkuk yang mewadahinya. Semangkuk ayam arak yang menghangatkan tubuh ibu, semoga juga memberi kehangatan bagi batinnya.

Resep

Bahan:

1 ekor ayam kampung, potong
200 gram jahe, iris tipis seperti korek api
Minyak wijen, secukupnya
500 ml arak masak (ang ciu)
Gula, secukupnya.
Garam, secukupnya.
Lada putih, secukupnya.

Cara masak:

  1. Tumis jahe menggunakan minyak wijen hingga agak kering.
  2. Masukkan ayam, sedikit gula, dan lada putih, aduk rata.
  3. Tuang air secukupnya, ungkep ayam hingga empuk dan airnya mulai mengering.
  4. Tuang arak masak, masak dengan api kecil hingga mendidih.
  5. Cicipi, koreksi rasa sesuai selera.
  6. Ayam arak siap dihidangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.