Asam Garam
Essay
01 Jun 2022

Kontradiksi Ayam: Sakral dan Binal?

Ayam sebagai binatang sakral yang memiliki konotasi buruk dari ayam kampus, cock, hingga cocky.

Text
M. Hilmi
Illustration
Ignatio Rivaldo
Topics
Ayam Binal
Ayam Sakral
Chicken Chronicles
Kontradiksi Ayam
Lunguistik Ayam
Share Article

Mungkin, perjalanan hidup adalah perkara berpindah dari satu kontradiksi ke kontradiksi lain. Terutama kalau kita hidup di Indonesia. Saat terjadi invasi Rusia ke Ukraina, kita ramai-ramai mengutuk, padahal kita melakukan hal yang tak jauh beda pada Papua. Kita mengaku siap menuju Metaverse, tapi urusan KTP saja harus difotokopi. Kita mengaku kaya budaya, tapi baru merayakan budaya tersebut saat orang kulit putih mengapresiasi. Tapi harusnya kita tak perlu terlalu kaget, karena kontradiksi ini tak hanya hadir di gagasan-gagasan besar, tetapi juga terjadi di kehidupan sehari-hari. 

Agak lucu juga kalau dipikir-pikir bagaimana kita hidup di negara yang katanya menjunjung tinggi budaya dan makna, tapi punya dua poros makna yang berseberangan untuk ayam. Salah satu sumber protein utama kita. Poros makna ayam yang pertama telah dibahas secara cukup komprehensif oleh Teuku Reza Fadeli di sini. Singkatnya, ayam adalah salah satu hewan yang sakral dalam ritual dan sejarah. Tapi di saat yang sama, kita semua pasti tahu bahwa ayam juga punya sisi yang cukup peyoratif: ayam kampus. 

Jika benar we are what we eat, lalu bangsa seperti apakah kita? Apakah kita adalah bangsa yang berbudi luhur, ataukah kita adalah bangsa yang binal?

Sayangnya, agak sulit mencari asal muasal istilah “ayam kampus”. Selain fakta bahwa istilah ini adalah istilah “resmi” karena telah masuk KBBI dengan makna: “mahasiswi yang merangkap sebagai pelacur”. Di internet, sama saja, sulit untuk mencari etimologi yang jelas untuk istilah ini. Ada beberapa usaha pemaknaan yang muncul, tapi hampir semua metodenya utak-atik gathuk nan cocoklogi.

Dalam sebuah laman, disebutkan bahwa term “ayam kampus” ini lahir karena sifat ayam yang lebih mudah menurut/lebih mudah didekati. Pemaknaan ini sangat debatable, coba saja tangkap ayam yang di lepas di pekarangan rumah, rasanya menangkap kelinci (yang mungkin justru lebih seksual) atau kucing jauh lebih mudah. 

Di laman lain, disebutkan bahwa ada tiga hal yang menyebabkan kenapa kita memakai istilah ayam kampus instead of berang-berang kampus atau platypus kampus (yang lebih bagus secara rima). Artikel yang cukup banyak jadi acuan ini menyebutkan bahwa ayam punya kebiasaan mengorek-ngorek untuk mencari makanan. Jadi, ayam kampus dianggap mempunyai kebiasaan yang sama dalam hal mengorek isi kantong pelanggan. Poin kedua adalah tentang bodi ayam yang dianggap menggiurkan untuk disantap. Poin ketiga adalah bahwa sajian ayam biasanya berfokus pada bagian dada dan paha, mirip dengan jualan ayam kampus. 

Dari semua makna yang terkumpul, kita bisa melihat bahwa ada gaze yang cukup questionable tentang etimologi istilah ayam kampus. Untungnya, dalam dualitas makna ayam ini, kita tidak sendirian. Terminologi ayam ternyata punya konotasi negatif di budaya lain. Dan banyak di antara makna negatif tentang ayam ini juga mengada-ada secara makna. 

Yang pertama adalah cock yang adalah istilah lain untuk penis. Menariknya, ayam jantan sebenarnya tak punya penis, mereka hanya punya kloaka yang merupakan saluran untuk feses, urin, dan sperma. Yang kedua, adalah cocky yang bermakna sombong. Istilah ini bermula dari sikap ayam jantan yang punya postur tegap dan punya warna bulu yang lebih mencolok dari ayam betina. Tapi bukankah hampir semua hewan seperti ini? Tahu ‘kan kalau merak yang banyak kita lihat gambarnya itu adalah merak jantan? 

Lalu chicken yang berarti cowardice. Ditulis bahwa chicken bisa diartikan penakut karena anakan ayam akan cenderung kabur saat didekati. Tapi bukankah memang harus begitu? Sebagai hewan yang harus bertahan hidup di antara seleksi alam, memang mereka harus sebisa mungkin menghindari predator supaya berumur panjang. Ada juga istilah chick yang bermakna sama dengan girl tapi dengan sedikit tendensi negatif. Dan ternyata, konotasi ayam yang menjadi eufimisme untuk urusan genitalia tak hanya hadir di Bahasa Indonesia dan Inggris saja. Disebutkan bahwa banyak bahasa di berbagai belahan dunia juga punya istilah yang sama.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa diksi – bagian kecil dari bahasa – adalah konstruksi sosial yang merepresentasikan perspektif peradaban. Dari istilah terkait ayam di atas, kita bisa melihat bahwa banyak term yang kita gunakan bermula dari cocoklogi yang sebenarnya tak berdasar dan tak faktual. Jika peradaban bisa usang, maka bahasa pun bisa pula demikian. Kita sudah melihat beberapa contohnya. Masih ingat soal ujaran “… like a girl” yang dulunya punya konotasi merendahkan, kini telah di-reclaim menuju makna yang lebih egaliter. Di Indonesia, beberapa waktu lalu kita juga menjadi saksi bagaimana KBBI punya kecenderungan negatif dalam memaknai perempuan. Sebuah hal yang akhirnya bisa diubah berkat perjuangan Ika Vantiani dan kawan-kawan. 

Jika begitu, jangan-jangan kita masih pula terjebak dalam perspektif peradaban yang misoginis dalam memaknai ayam kampus yang merupakan istilah untuk mahasiswi yang merangkap sebagai pelacur? Jawabannya adalah iya dan tidak. Kita masih terjebak dalam perspektif yang misoginis kalau kita sepakat bahwa ayam kampus adalah term eksklusif untuk mahasiswi yang melakukan aktivitas melacur. Padahal, dalam praktiknya, tak hanya mahasiswi saja yang melakukan aktivitas melacur. 

Jika ada yang perlu kita perjuangkan, mungkin justru pemaknaan kita untuk kata pelacur yang bermakna negatif. Lagian, di zaman yang serba susah seperti sekarang, sepertinya kita semua “melacur” dalam kekang kapitalisme dengan cara kita masing-masing. Pada dasarnya, kita semua sedang melacur demi kemuliaan hidup kita bersama orang-orang yang kita kasihi. Lagi-lagi kontradiksi. Jika memang kita menjalani hidup yang berada di persimpangan makna kata, sepertinya ini harus kita jalani dengan sebaik-baiknya. Karena mungkin, hidup tak sesempit hitam putih makna kata. Karena hanya ini yang kita punya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.