Op-ed
Essay
15 Jun 2022

Balada Ayam yang Berdendang Bersama Budaya

Membahas tentang perjalanan makan ayam dan hubungannya dengan ragam budaya.

Text
Rama Indirawan
Illustration
Ula Zuhra Soenharjo
Topics
Ayam Goreng Tojoyo
Ayam Koloke
Budaya Berdendang
Chicken
Culture
Nasi Liwet
Simbolisme Ayam
Tradisi Ayam
Share Article

Dari kecil sampai besar makan beragam ayam. Dari sekadar makan hingga akhirnya sadar, bagaimana ayam adalah santapan dasar yang mengikuti tiap budaya sebuah masyarakat—merefleksikan keberagaman manusia itu sendiri.  

Entah berapa potong ayam yang telah saya makan selama hidup ini. Ayam-ayam tak terhitung yang dimasak dengan beragam cara berbeda, memori menyantap mereka semua terlintas di kepala.

Apabila kilas balik ke masa kecil, salah satu memori makan ayam saya yang paling awal melibatkan fried chicken atau ayam goreng tepung di restoran-restoran cepat saji asal Amerika Serikat (AS). Mungkin itu teringat karena rasa yang berbeda di antara masakan ayam lainnya. Mungkin juga itu menjadi lebih spesial karena dahulu saya jarang menyantapnya. 

Saat kecil, ibu beberapa kali mengajak saya makan Kentucky Fried Chicken (KFC) di D’Best Fatmawati atau Texas Fried Chicken di Grand Wijaya yang keduanya berada di Jakarta. Itu adalah hari-hari spesial yang membekas menjadi nostalgia.

Perusahaan-perusahaan AS tersebut berhasil menanamkan nilai-nilainya kepada saya sejak masih kecil. Bersamaan dengan Music Television (MTV), kartun Disney, film Hollywood, dan Pepsi atau Coca-Cola yang menjadi akses utama pengaruh Barat pada masa itu. Saat dewasa, mereka masih melekat di memori—berhasil mengasosiasikan diri dengan masa kecil saya.

Tentunya memori makan ayam awal saya tidak hanya ayam goreng tepung. Bahkan, kalau kembali ditarik ke masa saat masih di kandungan, waktu itu ibu mengidam makanan asli kota kelahiran saya yaitu nasi uduk. Lengkap dengan ayam, telur, sambal, dan lauk lainnya, rumah makan pilihan ibu saya adalah Nasi Uduk Kebon Kacang di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kemungkinan besar, ayam goreng ungkep ala Indonesia yang biasa dimasak dengan bumbu kuning adalah hidangan ayam pertama yang saya santap. Ia ada di mana saja, dari warung pecel, warung tegal, suwir di soto, suwir di bubur, hingga meja makan rumah saya dengan sop serta sayur yang ikut menemani. Namun karena sering makan ayam jenis itu, ayam yang berbeda dan jarang dimakan akan lebih teringat. Lagi dan lagi saya kembali ke ayam goreng tepung!

Di antara Perbedaan dan Persamaan

Makan ayam ala Indonesia di rumah, makan ayam ala luar negeri saat di luar. Kurang lebih itu pola sehari-harinya. Saat sekeluarga pergi di akhir pekan, kebiasaannya adalah menyantap makanan yang tidak biasa kami makan. Karena itu kami seringkali mencoba makan di beragam tempat seperti rumah makan ala Jepang, kafe ala Prancis, atau restoran India. 

Jepang mungkin menjadi menarik karena memiliki hidangan yang menyerupai ayam goreng tepung AS yaitu chicken katsu dan juga chicken karaage. Sedangkan ayam di restoran-restoran bertemakan Eropa menjadi menyenangkan melalui saus sederhana serta kentang tumbuk atau goreng yang menggantikan nasi. Masakan India cukup unik karena rasanya yang berbeda tapi sekaligus memiliki kemiripan dengan masakan Indonesia melalui hidangan beserta rempah-rempahnya. Berbagai jenis hidangan ayam dari beragam negara bisa dinikmati di kota besar seperti Jakarta, cukup pergi dari satu restoran ke restoran lain saja apabila ingin jajan internasional.

Dari akses makanan internasional di kota, kami pindah ke yang sangat lokal di kampung. Setiap satu tahun sekali saya pulang ke Magelang serta daerah lain di Jawa Tengah untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar dalam rangka hari raya Idulfitri. Pada momen itu pula saya bertemu dengan hidangan-hidangan ayam asli Indonesia yang luar biasa. Ayam goreng Tojoyo serta gudeg di Yogyakarta, ayam koloke di Magelang, dan nasi liwet di Surakarta dengan ayam suwirnya menjadi beberapa contoh ideal. 

Di kampung pula saya melihat ayam disembelih untuk pertama kalinya. Teringat saat masih kecil, bagaimana asisten rumah tangga nenek saya menggengam kepala seekor ayam kampung dan menyembelihnya. Setelah itu ayam dijadikan opor, sebuah hidangan yang lekat dengan kehangatan hari raya bersamaan dengan ketupat. 

Cara menghidangkan ayam ada banyak jenisnya. Akan tetapi untuk mempersembahkan nyawanya agar bisa disantap, setidaknya ada dua metode yang dapat dipilih. Cara pertama adalah cara kebanyakan ayam, mereka yang dikurung hampir seumur hidupnya akan dijagal secara massal dengan mesin. Cara kedua, sesuai dengan ayam yang berkeliaran di kampung, tidak melulu dikandang—bisa juga disebut sebagai free range atau jelajah bebas. Mereka disembelih seperti apa yang saya saksikan. Dua perbedaan itu seakan mencerminkan hidup di kota dan desa.

Semakin dewasa, semakin bebas juga untuk memilih serta membeli makanan di luar rumah. Tanpa disengaja, eksplorasi makan ayam saya pun terus berkembang – menyantap hidangan Indonesia dan juga dunia di berbagai tempat melalui makanan-makanan khas mereka semua. 

Ada pepatah yang mengatakan bahwa kamu adalah apa yang kamu makan. Apabila itu benar, identitas manusia Indonesia seakan dapat bertengkar dengan Barat atau pengaruh luar lainnya melalui kegiatan makan ayam. Tidak salah, toh budaya itu juga hasil dari sebuah kebiasaan. Saat memilih ayam goreng tepung di restoran cepat saji dibandingkan berbagai jenis hidangan ayam dari Indonesia, kadang saya bergurau dengan merasa sebagai pria Jawa yang kebarat-baratan. Persis seperti apa yang dikeluhkan Kartini di Habis Gelap Terbitlah Terang (1938).

Tetapi manusia, dan apa yang ia makan tidak perlu dikotak-kotakan, ia tidak perlu anti sesuatu atau membenci. Setiap manusia bisa memilih atau mencampur, namun memang lebih baik apabila ia juga memahami akarnya. Saya sendiri? Memodifikasi kutipan novel Anak Semua Bangsa (1980) oleh Pramoedya Ananta Toer, saya adalah pemakan ayam semua bangsa dari segala zaman, yang telah lewat dan yang sekarang!

Budaya Berdendang

Perbedaan di setiap hidangan ayam seakan bercerita dengan sendirinya. Salah satu hal dominan yang membedakan ayam goreng tepung ala Kentucky dengan ayam gudeg ala Yogyakarta adalah budayanya. Sama seperti orang Kentucky dan Yogyakarta, keduanya sama-sama manusia, budayanya saja yang berbeda. 

Budaya banyak definisinya. Salah satunya keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat (Koentjaraningrat). Sedangkan Sacred Bridge Foundation melihat manusia, lingkungan, dan Tuhan sebagai faktor penentu budaya yang saling mengiris. Budaya itu sendiri terdiri dari kepercayaan, nilai-nilai, simbol, kebiasaan, norma, beserta tradisi yang dapat termanifestasi melalui tingkah laku dan cara berpikir.

Ayam adalah kanvas rasa yang merefleksikan sebuah budaya, menyantapnya bagaikan merasakan budaya itu sendiri. Ia cukup universal karena hidangan ayam bisa ditemukan di berbagai belahan dunia. Ia juga sangat lokal karena bahan-bahan serta kisah kulinernya lekat kepada budaya tempat makanan itu lahir. 

Ayam goreng tepung khas AS dikenal sebagai masakan asal daerah Selatan yang identik dengan komunitas Afrika-Amerika. Mereka yang dahulu dijadikan budak membawa tradisi tanah asal mereka dengan memelihara ayam untuk ritual. Pada zaman perbudakan pula mereka diizinkan oleh majikan untuk beternak ayam serta menjual atau barter telur. Akhirnya di antara abad ke-17 hingga ke-19, orang-orang Afrika-Amerika mulai memasak serta menyantap ayam goreng sebagai hidangan sehari-hari. 

Persistensi membuat hidangan ini menjadi salah satu makanan paling populer di dunia hingga hari ini. Dari sajian spesial setelah gereja di hari Minggu atau hari kemerdekaan pada setiap 4 Juli, ayam goreng tepung akhirnya dapat dinikmati semua orang sebagai makanan sehari-hari. Dari lokal ke global, Kolonel Sanders juga berperan dalam penyebaran ayam goreng tepung. Melalui waralaba KFC yang ia bangun sejak tahun 1950an, ia berhasil membawa hidangan ayam asal kampung halamannya mendunia.

Dari kisah ini bisa dilihat bagaimana budaya tercipta melalui faktor-faktor seperti tradisi, kebiasaan, dan kepercayaan. Bagaimana memelihara ayam menjadi ritual asal komunitas Afrika-Amerika, bagaimana ia akhirnya berkembang menjadi santapan yang erat dengan tradisi gereja di bagian Selatan, dan bagaimana akhirnya menyebar ke berbagai kota hingga luar negeri bersamaan dengan budaya yang dibawanya.

Saat KFC akhirnya datang ke Indonesia, ia berbeda. Nasi menjadi teman utama dibandingkan kentang. Ayam goreng tepungnya tidak diubah, tapi makan dengan apanya yang diubah. Hal ini dapat menunjukkan bagaimana ayam itu dapat mudah diterima di budaya mana saja, bahkan lebih mudah daripada harus mengganti nasi dengan kentang di pasar Indonesia. 

Apabila kita melihat hidangan ayam di Indonesia, maka kita akan menemukan cerita-cerita kaya yang mewakili rasanya—merepresentasikan tiap budaya. Sebut saja gudeg dari Yogyakarta yang tercipta pada abad ke-16 di zaman Panembahan Senopati. Saat mendirikan Kesultanan Mataram Islam, hutan belantara harus dibabat untuk menciptakan ruang. Di hutan itu pula para prajurit dan pekerja menemukan banyak pohon kelapa dan nangka. Mereka memasaknya dengan bahan lain seperti gula aren di kuali dan diaduk-aduk menggunakan sendok besar. Nama gudeg sendiri berasal dari cara memasaknya yaitu diaduk-aduk atau dalam bahasa Jawanya, hangudeg

Dalam kisah tersebut kita dapat melihat relasi manusia dengan alamnya yang akhirnya menciptakan sebuah hidangan. Mereka memanfaatkan apa yang ada di lingkungannya dan menggunakan cara atau teknologi memasak yang akhirnya digunakan sebagai nama hidangan tersebut. Hidangan ini menjadi erat dengan Yogyakarta, hidangan ini menjadi tradisi kuliner kota istimewa itu hingga hari ini.

Tradisi, nilai-nilai luhur, simbolisme, dan kepercayaan dapat direfleksikan oleh hidangan-hidangan ayam di Indonesia. Selain gudeg, ada nasi liwet khas Surakarta yang dahulu digunakan sebagai simbol penolak bala ketika menjadi bencana. Nasi lawar ayam khas Bali pun merefleksikan nilai ideal masyarakatnya yang berupaya memanfaatkan segala tanpa sisa atau zero waste. Dalam sepring nasi, ayam didekonstruksi menjadi beragam macam bentuk dari betutu, sate lilit, dicampur sayur, sop, dan juga gorengan.  

Setiap hidangan ayam dapat dilihat dari sudut pandang budaya. Sudut pandang itu juga yang dapat menjelaskan bagaimana sebuah hidangan merefleksikan budaya suatu masyarakat.

Apabila kita dapat menyantap berbagai jenis hidangan ayam dari beragam budaya berbeda, sudah sepatutnya kita bisa hidup berdampingan dengan semua umat manusia walaupun budayanya berbeda. Pengalaman makan ayam mengajarkan saya tentang keberagaman. Memahami perbedaan satu sama lain hingga sadar kalau kita semua sebenarnya sama, seperti semboyan bhinekka tunggal ika yang ditulis Mpu Tantular di Kakawin Sutasoma

Leave a Reply

Your email address will not be published.