Asam Garam
Essay
24 Aug 2022

Daun Pisang dan Representasi Menjadi Berarti

Benang merah kuliner Nusantara yang berwarna hijau.

Text
Husni Efendi
Illustration
Dea Christabella
Topics
Daun Pisang
Kuliner Nusantara
Makanan Prasmanan
Pembungkus
Wadah
Share Article

Jika membicarakan ragam kuliner Nusantara, ada satu medium yang perannya seperti menjadi benang merahnya. Keberadaannya mungkin dianggap biasa saja, karena seolah hanya berperan kecil saat olahan-olahan makanan tadi siap disantap.

Medium tadi adalah daun pisang. Dia hadir di Aceh untuk membungkus kue timphan, di Sumatera Barat untuk membungkus lapek barajuik, di Manado untuk membungkus lalampa, di Pontianak untuk membungkus pengkang, di Lombok untuk membungkus celilong. Tidak usah ditanyakan lagi perannya di tanah Jawa, dari mulai membungkus lemper, arem-arem, nagasari, menjadi alas makan besekan acara-acara hajatan, hingga membungkus segala bentuk pepes dan variannya.

Pun, sepertinya tidak akan terhitung berapa banyak jenis makanan yang menggunakan perantara daun pisang sebagai pembungkus atau wadahnya.

Saking banyaknya ragam dengan wadah yang menggunakan daun pisang ini, masyarakat di Jawa Tengah mengenal berbagai istilah; seperti ‘pincuk’ untuk wadah nasi atau makanan yang berkuah, ‘tum’ untuk wadah makanan dengan menutup rapat seluruh bagian makanan seperti botok. Ada yang disebut ‘sumpil’ untuk membungkus dengan bentuk segitiga, ada ‘takir’ yang dibentuk persegi panjang dan menyisakan banyak ruang di tengahnya dan biasanya untuk wadah sayuran. Ada pula seperti tempelang, pinjung, sudi, sami, pasung, dengan ragam bentuk yang dikreasi menjadi wadah makanan dari daun pisang tadi.

Bahkan sendok makan juga bisa dibuat dari daun pisang ini, alat tersebut dinamakan ‘suru’, dibuat dengan cara menyobek daun pisang sepanjang 20 sampai 30 sentimeter dan kemudian dilipat menjadi dua bagian.

Di tatar Pasundan, ada yang dinamakan tradisi ngaliwet atau ngabotram. Kultur guyub dan ngumpul yang dilakukan dengan beraktifitas memasak bersama dan makan bersama. Di sini daun pisang beserta tulang daunnya tidak dipisahkan sebagai alas makan. Nasi, jengkol, ikan asin, tahu, tempe, sambal, ditumplek jadi satu di atas daun pisang dan dimakan beramai-ramai dengan posisi saling berhadapan.

Jika diperhatikan tentang bagaimana daun pisang bisa begitu banyak menemani ragam kuliner Nusantara, sepertinya juga tidak terlepas karena pohon pisang itu sendiri yang relatif banyak tumbuh di daratan Indonesia. Di pekarangan-pekarangan daerah pedesaan, lumrah pohon pisang banyak terlihat. Pohon pisang sendiri relatif mudah tumbuh tanpa banyak perawatan. Pohon pisang juga tidak memerlukan musim tertentu untuk tumbuh dan berbuah.

Keunikan pohon pisang dalam usahanya untuk tetap beregenerasi adalah tunas yang tumbuh dari bonggol induknya. Setiap bagian dari pohon pisang memiliki manfaatnya masing-masing. Gedebok pisang sering dipakai untuk tatakan layar dalam perhelatan wayang kulit, pelepah dahan yang kering pun juga bisa dimanfaatkan untuk bahan baku industri kerajinan, buah pisangnya tentu tidak usah dipertanyakan lagi, mulai dari yang mentah sampai yang matang semua bisa dimasak dan menjadi kudapan. Bahkan bunga pisang (jantung pisang) ini juga banyak digunakan sebagai campuran kluban atau ditumis menjadi sayur.

Keunikan lain dari pohon pisang ini adalah sebelum menghasilkan bunga atau buah, pohon pisang akan terus bertahan hidup. Jika pohon pisang ditebang sebelum berbunga, pucuk baru akan tumbuh dari bagian yang terpotong dan melanjutkan pertumbuhan. Berapa kalipun dipotong, pohon pisang itu akan terus bertahan hidup. Namun, bila sudah berbunga dan berbuah, pohon pisang itu akan mati dengan sendirinya.

Kembali ke soal daun pisang tadi dan hubungannya sebagai medium alas makan, jika ditelusuri awal mulanya, menurut sejarawan Fadly Rahman dalam Rijsttafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942; sebelum abad ke-18, cara makan orang Nusantara pada umumnya, mereka akan duduk santai di lantai sambil menikmati makanan yang terhidang dan dialasi dengan selembar daun pisang atau piring kayu. Dan sebelum makan, tangan kanan dicuci dengan air supaya nasi yang dikepal tak lengket di tangan sehingga mudah disuapkan ke mulut.

Pergeseran daun pisang sebagai alas makan yang sepaket dengan cara makan menggunakan tangan telanjang, dijelaskan oleh sejarawan Hendi Jo dalam artikelnya yang berjudul Asal-Usul Hidangan Makanan Prasmanan di Indonesia. Ia mengungkapkan cara makan dengan alas daun pisang ini mulai bergeser ketika abad 19, saat sebagian kaum elit Bumiputera mulai mengadopsi kebiasaan makan orang- orang Eropa, yakni menggunakan sendok dan garpu. Tentunya penggunaan alat-alat makan khas Eropa itu sudah mengalami penyesuaian mengingat pisau tak biasa digunakan. Sebab, sebagaimana halnya masakan Tionghoa, tekstur masakan di Jawa disiapkan untuk dimakan sesuap demi sesuap, dan tak perlu pisau untuk memotongnya di piring.

Dari situ pula, masih menurut Hendi Jo, kata ‘prasman’ (embrio dari istilah prasmanan yang sekarang kita kenal), mengacu pada cara makan orang ‘fransman‘, sebutan orang Belanda kepada orang Prancis, yang sering menyajikan makanan dengan ditaruh di atas meja.

Sementara dalam buku Jejak Rasa Nusantara, Fadly Rahman menjelaskan cara ‘prasman’ ini juga diadopsi orang-orang Nusantara dan cukup diminati hingga kini. Karena orang Nusantara sulit melafalkannya, kata ‘fransman’ pun lantas disebut ‘makan prasman’ yang lambat-laun menjadi ‘makan prasmanan’.

Bagaimanapun, pola pergeseran cara makan tadi, tetap tidak membuat daun pisang sebagai salah satu medium perlengkapan makan; entah sebagai alas, ataupun pembungkus makanan menjadi enyah.

Hal yang tidak bisa digantikan adalah aroma daun pisang yang bercampur dengan panas nasi atau panas kuah masakan yang kemudian memunculkan bau aromatik yang khas, dan membuat nafsu makan menjadi bertambah.

Peran daun pisang itu pula yang tidak akan bisa teralihkan dengan model kertas makan berbahan kertas minyak ataupun bahkan Styrofoam.

Saya membayangkan, daun pisang tetap menempati posisi teratas di hati, terlebih dengan romansa makan nasi hangat, jengkol, tahu, tempe, dadar, dan sambal yang saat menyantapnya dilakukan di tepi sawah sambil menikmati pemandangan petani yang sedang membajak dengan kerbaunya.

Toh bagaimanapun, romansa dalam menikmati makanan adalah pilihan mutlak kita sendiri. Menikmati peran daun pisang yang digunakan hanya sekali. Pohon pisang yang hanya berbuah sekali dengan beragam manfaat termasuk daunnya yang mengantarkan kelezatan makanan yang masuk ke mulut, seolah menjadi representasi sepenggal puisi Chairil Anwar; “sekali berarti, sesudah itu mati..”

Mari makan, rasakan, dengarkan, dan ceritakan. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.