Op-ed
Essay
01 Sep 2022

Daun yang Mati membawa Kehidupan

Mengamati dua karya lukisan milik Alif Lamra.

Text
Brigitta Patricia
Photo
Brigitta Patricia
Illustration
Kelly Rahardja
Topics
Alif Lamra
Daun
Lukisan
Yogyakarta
Share Article

Awal Juli lalu saya ke Yogyakarta untuk merayakan ulang tahun kakak. Selain menghadiri kesenangan bersama kandungku, saya juga ingin merayakan kerinduan pada rupa dengan mendatangi satu pameran kesenian di Jogja Gallery yang bertajuk “Warta #2”.

Beragam seni rupa, seni instalasi, pahat, cahaya remang dalam satu ruangan gelap menghibur imajiku yang terus mengurut bersama waktu untuk menerka-nerka arti dibalik setiap karya yang ditampilkan dalam galeri seni yang terletak tepat di sudut jalan, dekat dengan Alun-Alun Utara. Ketika mulai berkeliling, saya terhenti pada satu nama dan kemudian terdiam cukup lama pada dua karya lukisan milik Alif Lamra. Dua karya lukisan yang kontradiksi namun dalam satu tampilan rupa yang ingin diceritakan kepada mat akita, yaitu daun, tak terduga sungguh pas dengan tema yang sedang hangat diangkat oleh Lazy Susan 🙂

Lukisan pertama berjudul “Untitled” dengan deskripsi: Acrylic on canvas, 100 x 100 cm, 2022. Lukisan ini berwarna hijau segar khas warna daun yang bergelayut rindang pada pohon yang bertugas menyejukkan pekarangan rumah hingga jalan-jalan kota. Jenis daun yang dilukis adalah jenis daun menyirip, namun karena keterbatasan pengetahuan akan jenis tanaman, saya belum mampu menebak jenis tanaman yang dimaksud hanya dengan melihat bentuk daunya. Ahhhh, andai saat itu saya bertemu pelukisnya, bisa kutanya dan langsung kubayangkan apakah tanaman tersebut tergolong tanaman yang bisa disantap atau tanaman peneduh. Doakan semoga saya bisa bertemu pelukisnya, jadi rasa penasaran ini bisa dituntaskan bersama.

Lukisan kedua berjudul “Latar yang Menghitam” dengan deskripsi: Acrylic on canvas, 150 x 140 cm, 2022, masih dilukis di tahun yang sama. Namun nuansanya berbeda karena tema daun yang kedua ini ditampilkan dalam corak warna yang hitam, kelam. Seperti judulnya, lukisan ini menghadirkan suasana pekarangan rumah dengan latar yang penuh dengan daun-daun layu di ujung ranting pohon atau daun yang tumbuh dengan liar nan lebat yang tumbuh di halaman rumah tua yang sudah lama ditinggal penghuninya, mereka seolah ikut liar karena tidak terurus dengan baik. Lukisan kedua ini membuat saya agak sentimental.

Saya bisa merasakan atmosfer pepohonan dengan daun-daun rimbun yang mencoba untuk tetap tegar mengikuti ayunan angin, namun sebenarnya mereka yang lama-lama akan membusuk karena lama tak terawat dan tidak bersentuhan dengan kehidupan yang menghadirkan mereka kehidupan, yaitu manusia. Jika sudah begini saya teringat salah satu kutipan dari novel Tere Liye yang berjudul “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.” Duh jadi melankolia, tidak apa-apa, terkadang perlu bukan?

Dari konsep daun yang jatuh dari pohon karena meranggas atau memang dia jatuh karena tertiup angin keras, lalu diam lama di atas tanah hingga membusuk, tenggelam ke dasar tanah untuk memberi makan pohon bersama unsur hara yang membawa manfaat bagi pohon yang pernah memberinya kehidupan. 

Sepertinya konsep membusuk, mati, hilang, namun menjadi mulsa yang membawa manfaat bagi daur hidup suatu tanaman tidak terlalu menakutkan untuk dibayangkan, yang lebih menakutkan adalah jika pada akhirnya manusia membusuk seperti daun-daun yang gugur dari pohon, kemudian hilang sebelum berhasil mengungkapkan perasaan pada apa yang dirasakan oleh segenap indranya, termasuk perasaannya, ungkapkanlah sebelum menyesal dan hanya membusuk menjadi masa lalunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.