Op-ed
Essay
01 Sep 2022

Persekutuan dengan Rumpu Rampe

Olahan dedaunan yang membuat lidah dan jantung bergetar.

Text
Brigitta Patricia
Illustration
Tarcicius Aditya
Topics
Bunga Pepaya
Daun Papaya
Daun Singkong
Ende
Jantung Pisang
Nusa Tenggara Timur
Rumpu Rampe
Share Article

“Sensasi makanan, tergantung apa makanannya, siapa yang makan, dan sama siapa kita makan” begitu ujar Aruna dalam film Aruna dan Lidahnya, ah romantisme rasa memang tiada duanya, tapi sungguh itu terjadi padaku. Sebagai anak yang terlahir dengan separuh napas dan jiwa dari papa yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, lidahku akrab dengan olahan sayuran yang berasa dari tangan orang timur. Salah satunya Rumpu Rampe.

Yap, pendamping se’i babi ini tak kalah lezatnya. Terdiri dari empat macam sayuran yang mudah ditemukan di pasar atau di kebun rumahan. Papa yang jago masak, sangat sering mengolahnya jika kebetulan kami sedang makan besar di rumah atau saat itu kami sedang merindukan kampung halaman di Ende sana.

Pagi-pagi di rumah, kami mulai mengolah daun singkong, daun pepaya, bunga pepaya, serta jantung pisang, cukup dicuci bersih lalu direbus untuk menghilangkan getah dan rasa pahitnya dalam air mendidih (untuk daun pepaya dan bunga pepaya). Setelah semua sayuran cukup matang dirasa, semua sayuran dicampurkan ke dalam bumbu-bumbu sederhana yang sudah bercampur dengan minyak panas. Hmmmmm aroma dari bawang putih, bawang merah, yang bertemu dengan kemiri menggugah selera. Terakhir, beri garam sebagai penyempurna rasa.

Ohhh, lidahku bergetar saat rumpu rampe yang hangat, bersua nasi putih hangat, sambal lu’at, juga lauk daging yang beragam halal pun haram. Karena orang di rumah tidak semua pemakan daging merah, jadi se’i ayam atau se’i sapi bagi yang tidak makan babi pun ada di piring saji, banyak pilihan lauk namun persekutuan tiap makan besar ini tetap disatukan oleh menu sayur yang tugasnya hanya sebagai pendamping.

Ternyata, setelah dirasa, peran pendamping ini cukup penting, tidak hanya dalam meja makan yang kaya dengan serat-serat rasa, namun juga dengan pertanyaan pada kalimat pembuka tulisan ini “sama siapa kita makan”. Kalau sudah begini yang bergetar tidak hanya lidah, namun jantung atau mungkin air mata.

Leave a Reply

Your email address will not be published.