Op-ed
Essay
01 Dec 2022

Pecel Semanggi Surabaya, Beruntunglah Engkau Jika Menemukannya

Langkanya kuliner ini menunjukkan bahwa pesatnya pembangunan berperan cukup signifikan dalam menggerus tradisi suatu bangsa, termasuk dalam budaya kuliner.

Text
Inez Kriya
Illustration
Inez Kriya
Topics
Daun Semanggi
Kendung (Benowo)
Pecel Semanggi
Surabaya
Share Article

Lahir dan tumbuh di Surabaya pada tahun ‘90-an membuat masa kecil saya cukup kaya akan pengalaman dan pengetahuan terhadap berbagai jenis makanan. Kota ini semacam melting pot beberapa budaya etnis, yaitu Jawa, Madura, Arab, dan Tionghoa. Ditambah dengan lokasinya yang dekat laut, memberikan keistimewaan bagi kami berupa banyaknya pilihan kuliner; baik yang tradisional maupun produk akulturasi, dari yang tipenya kudapan hingga makanan perayaan. Buat saya yang akhirnya besar sebagai pecinta kuliner, ini semacam privilese.

Orang paling berjasa dalam membentuk pengalaman kuliner saya, tentu saja Ibu. Beliau tidak banyak melarang saya makan ini itu, hanya membatasi untuk beberapa jenis makanan, terutama junk food atau makanan instan. Selebihnya, saya bebas mencoba apapun. Mulai dari tahu campur hingga sup sirip ikan hiu (yang saya sesali begitu dewasa), pernah diperkenalkan ke lidah saya. Alhasil, saya berhasil dididik agar tak terlalu pilih-pilih makanan. Kalaupun ada makanan yang tak begitu saya sukai, akan selalu ada opsi penggantinya. Kita punya ratusan pilihan menu, tak perlu bingung! 

Yang saya kagumi lagi dari kuliner Surabaya adalah betapa kota ini mencintai berbagai jenis dedaunan dan pandai sekali mengolahnya menjadi bagian dari banyak hidangan. Daun salam dan daun jeruk nyaris tak pernah absen dari bumbu-bumbu masakan tradisional. Daun bawang (spring onion), bawang prei (leek), kucai, dan lokio bahkan hampir selalu dapat ditemui di pasar-pasar tradisional. Daun pakis, selalu digemari walau hadirnya musiman. Belum lagi daun alur yang begitu berpadu dengan kelapa parut menjadi bothok alur, nikmatnya luar biasa… Hmmm!

Wah, pokoknya, bagi pecinta sayuran, setiap makanan yang ditemui di Surabaya tak akan mengecewakan!

Walau demikian, ada satu menu dedaunan yang agak sulit dicari di pasaran. Namanya, daun semanggi. Yes, that ‘lucky clover’ semanggi.

Hah? Memang bisa dimakan?

Bisa. Jadi, waktu saya masih kecil, macam-macam kuliner jalanan jauh lebih tradisional dan unik ‘kan, tidak seperti sekarang yang banyak dipengaruhi oleh tren popularitas konten media sosial. Nah, salah satu kuliner yang paling membekas di benak saya saking “ajaibnya” adalah “Pecel Semanggi”.

Saya yakin kamu pasti tahu dan pernah mencicipi pecel. Mau pecel ala Madiun yang legit, atau pecel Kediri dengan taburan kemangi, mungkin sudah ada yang kamu sematkan sebagai pecel favorit. Namun, jika kamu bukan orang Surabaya, saya yakin kamu mungkin baru pertama kali ini mendengar menu itu, apalagi mencobanya.

Pecel Semanggi atau yang sering disebut juga sebagai Semanggi Suroboyo, sesuai namanya, adalah salah satu varian pecel yang konon khas Surabaya. Secara tampilan, sekilas pecel semanggi tak ada bedanya dengan pecel lainnya. Kita akan melihat gunungan sayuran hijau yang disiram saus kacang kecoklatan, disajikan di atas daun pisang. Tapi keunikan pecel ini terletak justru pada bahan utamanya, yaitu daun semanggi.

Dulu, di daerah Surabaya yang bernama Kendung (Benowo), hamparan daun semanggi memang mudah ditemukan karena wilayah itu berupa rawa. Warga sekitar kemudian mengolah daun-daun itu menjadi bahan makanan. Konon, semua penjaja semanggi dulu dan kini, adalah keturunan atau berhubungan erat dengan warga Kendung.

Seiring pembangunan Surabaya, populasi semanggi yang ada di Kendung semakin berkurang, karena lahan yang ada diutamakan untuk mendirikan pemukiman. Alhasil, jumlah penjual pecel semanggi pun turut menyusut.

Saya ingat dulu sempat terbengong-bengong saat melihat ibu-ibu penjaja semanggi lewat berkeliling. Dengan berkebaya, mereka akan menyunggi (membawa dengan diletakkan di puncak kepala) bakul anyaman besar berisi bahan-bahan semanggi. Penampilan itu cukup biasa dan mirip dengan penjaja sate ayam khas Madura yang juga berkeliling kala itu. Yang cukup mencolok sebagai pembeda adalah, di atas bakul pecel semanggi, ada kerupuk-kerupuk puli berwarna kuning yang menyembul. Ukurannya besar sekali! Di mata kanak-kanak saya, kerupuk itu terlihat seperti berukuran raksasa!

Dulu, pecel semanggi memang sejatinya disajikan di atas kerupuk itu. Iya, kerupuk puli raksasa tadi juga bisa berfungsi sebagai piring atau sendok. Ibu penjaja nya akan menyusun bahan-bahan isian di atas pincukan daun pisang yang sebelum menyiramnya dengan saus kacang, lalu kita tinggal makan pecel itu dengan menyendok nya dengan kerupuk puli yang dipatahkan sedikit demi sedikit.

Apa kerupuknya nggak melempem kena saus kacang?

Nah! Itu juga pembeda pecel semanggi dengan saudara-saudaranya yang lain. Saus kacang pecel ini teksturnya lebih kental karena menggunakan ketela (ubi) putih yang diulek halus. Maka dari itu, pecel semanggi juga tidak disajikan dengan nasi. Kita hanya perlu menikmati keutuhan paduan daun semanggi, bunga turi, tauge, kangkung, saus kacang, dengan sensasi gurih dan renyahnya kerupuk puli itu saja. 

Walaupun termasuk kuliner khas, keberadaan penjaja semanggi sekarang cukup langka ditemui. Kebanyakan akan memilih untuk berjualan di satu tempat secara tetap, biasanya di sekitaran wilayah Kampung Semanggi (Kendung, Benowo), atau di tempat-tempat publik seperti Taman Bungkul Surabaya dan Masjid Agung Al Akbar. Beberapa masih ada yang berkeliling, dan mereka akan berangkat sejak pagi beramai-ramai naik bemo (angkot) ke wilayah Pasar Kembang Surabaya, sebelum kemudian menyebar ke gang-gang pemukiman penduduk.

Masalahnya, karena armadanya jauh lebih sedikit dibanding dua dekade lalu, menunggui penjual pecel semanggi lewat di depan rumah sama saja seperti mencari daun semanggi berdaun empat di hamparan rumput yang luas. Makanya, tidak heran jika dibilang menemukan pecel semanggi yang lewat juga butuh keberuntungan ala semanggi berdaun empat, hehehe.

Saking istimewanya menu ini, sampai ada lagu keroncong ciptaan S. Padimin berjudul “Semanggi Suroboyo” di era ‘50-an. Masa itu, musisi keroncong juga tengah subur-suburnya bergeliat di Surabaya, jadi pas sekali kekhasannya. Sampai sekarang, lagu ini masih diputar di tempat-tempat wisata dengan daya tarik khas Surabaya seperti di kawasan Jalan Tunjungan, atau di acara-acara khusus yang mengangkat kebudayaan Surabaya. Lirik lagunya jelas menceritakan betapa nikmat dan murahnya penganan ini (dulu harganya hanya setali). Kini, seporsi pecel semanggi dibandrol dengan harga Rp12.000–Rp20.000. Masih tetap terjangkau, bukan?

Maka, jika kamu nantinya berkesempatan mengunjungi Surabaya, sempatkanlah mencari menu ini, karena seperti nyanyian Bung Padimin:

Semanggi Suroboyo, lontong balap Wonokromo

Dimakan enak sekali, sayur semanggi kerupuk puli…

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *